Konten dari Pengguna

Cara Agama Islam Masuk Indonesia: Perdebatan Teori dan Peran Penting Pedagang

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah penyebaran Islam ke Indonesia. Foto Dictio
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah penyebaran Islam ke Indonesia. Foto Dictio

Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Ini merupakan fakta yang menarik karena Indonesia terletak lebih dari 7000 km jauhnya dari tempat agama Islam pertama kali diwahyukan, yakni Arab Saudi.

Islam di Indonesia bisa berkembang begitu pesat dengan melalui rangkaian sejarah yang panjang. Tidak ada kepastian soal kapan dan dari mana Islam masuk ke Nusantara. Namun secara umum, para sejarawan mengemukakan ada 4 teori yang bisa menjelaskan masuknya Islam di Indonesia. Berikut penjelasan lengkapnya:

Teori Gujarat

Teori ini dikemukakan oleh kalangan sejarawan Belanda seperti Snouck Hurgronje. Menurut teori ini, penyebar agama Islam di Indonesia yang pertama adalah orang-orang dari Gujarat (India) antara abad ketujuh hingga abad ke-13 M.

Hurgronje mandasarkan teori ini pada kurangnya fakta yang dapat menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Terlebih, hubungan dagang antara Indonesia dan India sudah lama terjalin.

Terdapat argumen bahwa pada periode tersebut, orang-orang Islam dari Arab melakukan perjalanan ke Gujarat. Mereka mengajarkan mazhab Syafi’I hingga berkembang pesat di Gujarat.

Orang-orang dari Gujarat kemudian membawa ajaran ini ke Nusantara. Golongan yang berperan dalam penyebaran ini adalah pedagang. Pasalnya, orang Gujarat sebelumnya telah memiliki hubungan dagang yang erat dengan Nusantara. Secara perlahan, Islam pun menyebar di antara kaum pedagang.

Teori ini diperkuat oleh adanya batu nisan milik Sultan Malik Al-Saleh di Pasai yang memiliki kesamaan corak dengan batu nisan dari Gujarat.

Teori Mekah

Teori ini dikemukakan oleh Hamka. Beliau menolak teori Gujarat yang menyatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Menurut Teori Mekah, Islam masuk ke Indonesia pada abad ketujuh Masehi dari tanah Arab atau Mesir yang dibawa para kaum musafir Sufi.

Dalam buku Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi, Hamka berargumen bahwa Gujarat hanyalah tempat singgah sementara para pedagang Arab sebelum masuk ke Indonesia.

Teori ini juga dapat dihubungkan dengan penejelasan dari studi kepustakaan Arab kuno yang menyebut al-Hind sebagai India atau pulau-pulau China. Besar kemungkinan bangsa Arab telah sampai di Nusantara sejak abad 2 SM.

Teori Persia

Teori yang dikemukakan oleh P. A Hoesein Djajadiningrat ini menggarisbawahi persamaan kebudayaan masyarakat Islam Indonesia yang mirip dengan Persia.

Beberapa di antaranya adalah peringatan Asyura atau 10 Muharam untuk memperingati syahidnya Husein, penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja atau membaca huruf Arab, kesamaan antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj, dan lain sebagainya.

Teori China

Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby berpendapat bahwa kebudayaan Islam masuk ke Nusantara melalui perantara masyarakat muslim China. Menurut teori ini, migrasi masyarakat muslim China dari Kanton ke Nusantara, khususnya Palembang, pada abad ke 9 menjadi awal mula masuknya budaya Islam ke Nusantara.

Para pedagang China menikah dengan warga setempat. Terjadi perkawinan seorang perempuan China dengan Raja Brawijaya V yang kemudian melahirkan anak bernama Jin Bun atau yang lebih dikenal sebagai Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak.

Teori ini juga diperkuat dengan penulisan gelar raja-raja Demak dengan istilah China. Begitu juga dengan catatan yang menyebutkan bahwa pedagang China-lah yang pertama menduduki pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.

(ERA)