Konten dari Pengguna

Cara Cek Kadar Karbon Monoksida di NASA

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kabut asap. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kabut asap. Foto: Getty Images

Satelit milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mendeteksi konsentrasi karbon monoksida (CO) yang sangat tinggi di atmosfer Indonesia. Citra satelit tersebut memperlihatkan sebaran gas karbon monoksida di berbagai wilayah Indonesia selama periode 13–15 Oktober 2026.

Visualisasi itu bisa diakses lewat laman Eyes on the Earth milik NASA, tepatnya pada fitur Vital Signs. Data tersebut menggambarkan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer pada ketinggian sekitar 18.000 kaki atau 5,5 kilometer.

Bagi yang ingin memantau sebaran karbon monoksida di atmosfer, berikut cara cek kadar karbon monoksida di NASA melalui laman Eyes on the Earth.

Cara Cek Kadar Karbon Monoksida di Eyes on the Earth

Ilustrasi Bumi. Foto: Pixabay

Dikutip dari laman Eyes on the Earth milik NASA, berikut langkah-langkah untuk memantau sebaran karbon monoksida di atmosfer:

1. Buka Laman Eyes on the Earth

Akses laman Eyes on the Earth lewat https://eyes.nasa.gov/apps/earth/#/. Setelah halaman terbuka, pengguna akan melihat visualisasi Bumi beserta sejumlah fitur untuk memantau kondisi atmosfer dan lingkungan.

2. Pilih Indikator Carbon Monoxide

Klik menu “Vital Signs” yang berada di bagian kanan atas halaman. Selanjutnya, pilih indikator “Carbon Monoxide” dari daftar key indicators untuk menampilkan visualisasi sebaran gas karbon monoksida di atmosfer.

3. Amati Warna pada Peta

Setelah indikator dipilih, peta akan menampilkan visualisasi konsentrasi karbon monoksida di atmosfer, dengan perbedaan warna menunjukkan variasi konsentrasi gas di wilayah yang diamati.

Mengutip data NASA, warna pada peta dapat diartikan sebagai berikut:

  • Merah: Menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang lebih tinggi.

  • Biru dan ungu: Menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang lebih rendah.

Pada periode 13–15 Oktober 2026, visualisasi tersebut memperlihatkan dominasi warna merah pekat di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi hingga Papua.

4. Tampilkan Nama Kota dan Jalur Orbit Satelit

Untuk memudahkan identifikasi wilayah, pengguna dapat mengatur tampilan peta melalui menu “Settings”. Terdapat dua opsi yang bisa digunakan, yaitu:

  • Display City Names: Menampilkan nama kota pada peta sehingga pengguna lebih mudah mengenali lokasi yang diamati.

  • Display Ground Tracks: Menampilkan jalur lintasan orbit satelit di atas permukaan Bumi.

Bahaya Karbon Monoksida bagi Kesehatan

Kebakaran Menghasilkan Karbon Monoksida. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Mengutip Harvard Health, karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, serta dapat ditemukan dalam asap hasil pembakaran. Jika terhirup dalam konsentrasi tinggi, karbon monoksida bisa menyebabkan keracunan.

Paparan karbon monoksida dapat menimbulkan berbagai gejala, antara lain:

  • Sakit kepala: Rasa nyeri atau tekanan pada kepala.

  • Pusing: Sensasi kepala terasa ringan atau tubuh kehilangan keseimbangan.

  • Mual dan muntah: Rasa tidak nyaman pada perut yang dapat disertai muntah.

  • Tubuh terasa lemah: Penurunan energi yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu.

  • Kelelahan dan kebingungan: Tubuh terasa sangat lelah, disertai kesulitan berkonsentrasi atau berpikir jernih.

  • Nyeri dada dan otot: Rasa sakit yang dapat muncul di bagian dada maupun otot tubuh.

  • Sesak napas: Kesulitan bernapas akibat paparan gas beracun.

  • Gangguan penglihatan: Kemampuan melihat dapat terganggu akibat keracunan.

Baca Juga: Pemprov Sumsel Uji Coba Penanganan Karhutla Pakai Dry Ice Hari Ini

(ANB)