Cara Mencari Hari Baik untuk Pernikahan Menurut Primbon Jawa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Jawa terbiasa menggunakan petungan jawi untuk menentukan hari baik pernikahan. Mereka percaya bahwa perhitungan tersebut dapat membuat perkawinan berjalan lancar dan mendapat keberuntungan.
Dijelaskan dalam buku Petangan Jawi karya Tri Aji Budiharto (2021), keberuntungan yang dimaksud bisa berupa rezeki berlimpah bagi kedua mempelai. Menentukan hari pernikahan bisa menjadi bentuk ikhtiar agar hajatan dapat berjalan dengan lancar.
Penentuan ini sangat bergantung pada neptu hari dan pasaran kedua mempelai. Mengacu pada Primbon Jawa, neptu di sini berkaitan erat dengan perhitungan hari, bulan, dan tahun Jawa.
Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang cara mencari hari baik untuk pernikahan selengkapnya yang bisa Anda simak.
Cara Mencari Hari Baik untuk Pernikahan
Mayang Purbaningrum, dkk dalam buku Etnomatematika (2021) menjelaskan bahwa cara mencari hari baik untuk pernikahan bisa dilakukan dengan menjumlahkan neptu hari dan pasaran kedua mempelai. Kemudian, hasil dari penjumlahan tersebut dibagi 3 dan harus mendapatkan sisa 2.
Apabila tidak ditemukan sisa 2, harus ditambahkan dengan neptu lain sehingga diperoleh sisa 2. Nantinya, hari tersebut akan menjadi hari baik untuk melaksanakan pernikahan.
Menurut filosofinya, sisa 2 dalam perhitungan ini melambangkan kehidupan dan kebahagiaan yang dijalani oleh kedua mempelai hanya akan dirasakan oleh mereka saja. Sehingga, tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang dapat merusaknya.
Dalam kalender Jawa, dikenal adanya bulan yang dianggap baik dan tidak baik untuk melaksanakan pernikahan. Bulan tersebut terdiri dari Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, dan Besar.
Agar pernikahan berjalan lancar, syaratnya di antara ke-4 bulan tersebut harus ada hari Selasa dan Jumat Kliwon. Jika tidak ada, bulan tersebut dianggap tidak baik untuk menggelar pernikahan.
Jika sangat terpaksa, hajat bisa dilaksanakan pada bulan pengganti, seperti Safar, Rabiul Awal, Jumadil Awal, ataupun bulan Syawal. Hal itu boleh dilaksanakan dengan syarat pada bulan-bulan tersebut terdapat hari Selasa dan Jumat Kliwon.
Dihimpun dari buku Kitab Primbon Jawa Serbaguna karya R. Gunasasmita (2009), berikut nama-nama bulan yang baik untuk diselenggarakan pernikahan:
Jumadil Akhir: Jika menikah pada bulan Jumadil Akhir, maka pernikahannya akan membawa keberuntungan karena pasangan akan memiliki kekayaan yang melimpah ruah.
Rajab: Bulan Rajab juga sangat baik untuk melakukan pernikahan. Sebab, kedua mempelai akan mendapat keberkahan, keselamatan, dan memiliki anak yang banyak.
Ruwah: Bulan Ruwah juga cukup baik untuk melaksanakan hajat pernikahan karena pasangan suami istri akan mendapatkan keselamatan dan kedamaian dalam rumah tangganya.
Besar: Bulan Besar adalah bulan yang baik untuk melaksanakan hajat. Menurut kepercayaan, pasangan yang menikah di bulan ini akan memperoleh banyak rezeki dan kebahagiaan.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan petungan jawi?

Apa yang dimaksud dengan petungan jawi?
Petungan jawi adalah metode perhitungan khusus yang digunakan untuk menentukan hari pernikahan.
Apa saja bulan yang baik untuk pernikahan?

Apa saja bulan yang baik untuk pernikahan?
Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, dan Besar.
Apa itu neptu?

Apa itu neptu?
Neptu adalah perhitungan hari, bulan, dan tahun Jawa.
