Cara Mengatasi Formalisme Agama dan Memahami Penyebabnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara mengatasi formalisme agama sebenarnya tidak sesederhana itu. Pasalnya, perkara ini harus diselesaikan melalui inisiatif setiap individu yang bersangkutan.
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 pernah merumuskan bahwa formalisme agama adalah proses penghayatan agama yang hanya bersifat formalis dan legalis. Sehingga, tiap individu tidak mampu menghayati nilai agama dalam kehidupan sehari-harinya.
Formalisme agama mencerminkan kesalehan yang semu atau palsu. Artinya, seseorang hanya melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada Tuhan atas dasar pengguguran kewajiban.
Akibatnya, ia tidak bisa mengimplementasikan nilai agama tersebut dalam kehidupan secara nyata. Lantas, bagaimana cara mengatasi formalisme agama ini? Simak artikel berikut untuk mengetahui jawabannya.
Cara Mengatasi Formalisme Agama
Sebelum memahami cara mengatasi formalisme agama, Anda perlu mengetahui penyebab munculnya fenomena ini terlebih dahulu. Menurut Reza A.A. Wattimena dalam buku Protopia Philosophia, ada beberapa akar masalah terkait formalisme agama.
Pertama, hal ini berkaitan dengan kesalahpahaman umat tentang makna iman dan agama itu sendiri. Mereka tidak mengimani hal-hal yang membutuhkan penafsiran lebih jauh.
Jadi ketika menemui suatu ajaran yang tidak relevan dengan akal sehat dan hati nuraninya, mereka cenderung menolak ajaran tersebut. Ia enggan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, penyebabnya karena kemalasan berpikir. Mereka menggunakan tameng agama sebagai pembenaran untuk kemalasan dalam berpikir.
Mereka tidak mau berpikir kritis, rasional, logis, dan sistematis. Sebaliknya, mereka justru hanya mengikuti tradisi yang sudah ketinggalan zaman tanpa mempertimbangkan aspek rasionalnya sama sekali.
Ketiga, formalisme juga sering digunakan sebagai pembenaran untuk mengumbar hawa nafsu dan kerakusan. Contohnya, banyak umat beragama yang mengutip aturan-aturan kuno guna membenarkan perselingkuhan dan korupsi.
Mereka juga mengarang peraturan demi kepentingannya sendiri. Sikap inilah yang mesti diperbaiki. Untuk mengatasinya, seseorang bisa mengikuti beberapa tips berikut:
1. Pahami makna dan filosofi setiap ajaran agama
Ketahui alasan di balik ritual dan aturan keagamaan. Cobalah untuk mendekatkan diri pada spiritualitas dan nilai-nilai baik. Sebab, ritual bukanlah tujuan akhir, melainkan cara untuk memahami dan mendekatkan diri kepada keilahian.
2. Jadikan aturan agama lebih fleksibel
Jangan hanya berpegang teguh pada aturan tanpa memperhitungkan kebebasan beribadah. Hal ini memungkinkan orang untuk mengikuti bentuk ibadah yang sesuai dengan kehidupan mereka.
3. Mempelajari agama secara menyeluruh
Pelajari ilmu agama yang mencakup konsep-konsep kunci, etika, moralitas, dan nilai-nilai spiritual. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, umat bisa melihat agama sebagai panduan untuk tumbuh secara spiritual dan moral.
(MSD)
