Cara Menghitung NPL, Lengkap dengan Rumus dan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara menghitung NPL atau Non-Performing Loan dilakukan untuk mengetahui besarnya risiko kredit bermasalah yang ada pada suatu lembaga keuangan. Semakin tinggi rasio NPL dapat menyebabkan menurunnya profitabilitas lembaga keuangan tersebut.
Mengutip buku Metode Penelitian Kuantitatif dengan Pendekatan Statistika oleh Adi Sulistyo Nugroho, dkk., NPL adalah tingkat pengembalian kredit yang diberikan pihak debitur (peminjam) kepada bank atau lembaga keuangan tertentu.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 06/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, rasio dari NPL adalah sebesar 5%. Artinya, apabila NPL suatu lembaga keuangan melampaui batas ini, maka lembaga tersebut menghadapi masalah kredit yang serius.
Semakin rendah rasio NPL suatu lembaga keuangan, maka keuntungan yang diperoleh semakin tinggi. Sebaliknya, jika tingkat NPL tinggi, maka lembaga keuangan tersebut akan mengalami kerugian. Lantas, bagaimana cara menghitung NPL bank dan lainnya?
Cara Menghitung NPL dari Laporan Keuangan
Cara menghitung NPL diketahui dengan menghitung kredit non-lancar terhadap total kredit. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung NPL, yaitu:
Rasio NPL = (Total NPL / Total Kredit) x 100%
Keterangan:
Rasio NPL adalah jumlah kredit yang gagal dilunasi oleh peminjam dan berpotensi merugikan bank.
Total NPL adalah total nilai kredit yang tidak dapat dilunasi oleh peminjam.
Total kredit adalah total kredit yang diberikan oleh bank.
Berdasarkan nilai rasio NPL yang dihasilkan, Bank Indonesia mengklasifikasikannya menjadi beberapa kategori sebagai berikut:
Sangat Sehat: NPL < 2%
Sehat: 2% < NPL < 5%
Cukup Sehat: 5% < NPL < 8%
Kurang Sehat: 8% < NPL < 12%
Tidak Sehat: NPL > 12%
Jadi, rasio NPL di bawah 2% dikategorikan sebagai "Sangat Sehat", yang berarti lembaga keuangan tersebut memiliki kelompok debitur dengan pengembalian kredit yang lancar.
Sementara itu, rasio NPL di atas 12% dikategorikan sebagai "Tidak Sehat", yang artinya lembaga keuangan tersebut memiliki kelompok debitur dengan pengembalian kredit yang macet atau tidak lancar.
Contoh Perhitungan NPL
Untuk memahami lebih jelas, perhatikan contoh perhitungan NPL berikut:
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada Oktober 2023, Bank B menyalurkan total kredit sebesar Rp200 miliar dengan total NPL sebesar Rp50 miliar. Berapa rasio NPL Bank B tersebut?
Pembahasan:
Diketahui:
Total kredit = Rp200 miliar
Total NPL = Rp50 miliar
Ditanya: Rasio NPL?
Jawab:
Untuk menghitung rasio NPL Bank B, gunakan rumus yang telah disebutkan sebelumnya sebagai berikut:
Rasio NPL = (200 miliar / 50 miliar) x 100% = 4%
Berdasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio NPL Bank B adalah sekitar 4%, yang masih termasuk dalam kategori "Sehat" menurut klasifikasi Bank Indonesia.
Itulah penjelasan mengenai cara menghitung NPL dan contohnya yang perlu diketahui untuk mengetahui besarnya risiko kredit bermasalah pada suatu lembaga keuangan.
(SFR)
