Cara Menghitung Payback Period Sebelum Melakukan Investasi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Payback period adalah waktu pengembalian yang menunjukkan kapan waktu mencapai titik impas (BEP). Dalam dunia investasi, payback period dikenal juga dengan istilah pengembalian investasi.
Ketika menggunakan metode payback period, investor bisa mengukur jangka waktu yang diperlukan untuk dapat menutup kembali investasi menggunakan aliran kas neto atau proceed. Sama seperti metode ARR, metode ini juga mengabaikan nilai waktu uang.
Mengutip buku Aplikasi Excel untuk Perencanaan Bisnis karya Johar Arifin (2007), perhitungan payback period dilakukan dengan cara menulis formula atau rumus. Sehingga, investor bisa menghitung besar arus kas masuk tahunan dari suatu bisnis.
Bagaimana cara menghitung payback period? Untuk mengetahui langkah-langkahnya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut ini.
Cara Menghitung Payback Period dalam Investasi
Pada dasarnya, metode payback period digunakan untuk menghitung periode kembalinya modal dengan membandingkan antara nilai initial investment (Io) yang dikeluarkan pada saat ini dengan nilai arus kas masuk (annual proceeds). Perhitungan ini dilakukan secara bertahap pada berbagai titik waktu di masa mendatang.
Arus kas masuk sangat berperan dalam perhitungan payback period ini. Misalnya, Anda melakukan investasi pada perusahaan sebesar Rp50 juta. Kemudian, perusahaan tersebut memiliki proceed selama 4 tahun masing-masing sebesar Rp20 juta.
Proceed tahun pertama belum mampu menutup investasi karena masih tersisa Rp30 juta. Kemudian, proceed tahun kedua juga belum mampu menutup investasi karena masih tersisa Rp10 juta. Namun, proceed tahun ketiga sudah mampu menutup investasi dan memiliki kelebihan sebesar Rp10 juta.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa jangka waktu pengembalian investasi (payback period) yang diterima yakni 2,5 tahun. Melalui perhitungan ini, Anda dapat mengetahui layak tidaknya suatu investasi.
Selain dilakukan untuk pertimbangan investasi di pasar modal, metode payback period juga bisa digunakan untuk mempertimbangkan keputusan investasi di bisnis tertentu. Misalnya, investasi ke bisnis teman, sahabat, atau sanak saudara.
Cara mengitung payback period bisa dilakukan dengan metode yang mudah. Anda bisa menghitung besar arus kas masuk tahunan dari emiten atau bisnis yang sedang berjalan. Dirangkum dari buku Business Plan for Hospitality karya Lexi Pranata, dkk., berikut rumus yang biasa digunakan:
Payback period = Investasi kas bersih/Arus kas masuk bersih tahunannya
Baca juga: Cara Menghitung ROI dan Fungsinya dalam Suatu Bisnis
Contoh soal:
Untuk membuat usaha restoran, Pak Budi mengeluarkan investasi sebesar Rp150 juta. Dengan investasi tersebut, arus kas masuk bersih tahunan diperkirakan sebesar Rp42,5 juta. Maka, berapa payback period dari investasi tersebut?
Payback period = Investasi kas bersih/Arus kas masuk bersih tahunan
Payback period = Rp150 juta/Rp42,5 juta
Payback period = 3,5 tahun
Untuk menghitung jumlah bulan dan hari, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:m
0,529 tahun x 365 hari = 193 hari
193 hari : 30 hari = 6,43 bulan
0,43 bulan x 30 hari = 12,9 hari dibulatkan jadi 13 hari
Maka, payback period dari investasi tersebut adalah 3 tahun 6 bulan 13 hari.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan payback period?

Apa yang dimaksud dengan payback period?
Payback period adalah waktu pengembalian yang menunjukkan kapan waktu kita mencapai titik impas (BEP).
Apa nama lain dari payback period?

Apa nama lain dari payback period?
Pengembalian investasi.
Bagaimana cara kerja payback period?

Bagaimana cara kerja payback period?
Pada dasarnya, metode payback period digunakan untuk menghitung periode kembalinya modal dengan membandingkan antara nilai initial investment (Io) yang dikeluarkan pada saat ini dengan nilai arus kas masuk (annual proceeds).
