Cara Menghitung Tanggal Pernikahan Sunda Agar Rumah Tangga Dipenuhi Hal Baik

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menentukan tanggal menjadi tahap awal persiapan acara pernikahan. Dewasa ini, tanggal cantik kerap kali dipilih calon mempelai untuk melaksanakan hari spesialnya.
Namun, ada juga yang menentukan tanggal dengan metode tradisional seperti yang dilakukan masyarakat Sunda. Cara menghitung tanggal pernikahan Sunda tidak sulit, Anda bisa melakukannya dengan hitungan matematika sederhana.
Perhitungan tanggal pernikahan Sunda sudah dilakukan oleh masyarakatnya sejak lama. Mengutip buku Tiga karangan Anjar (2005), tanggal tersebut biasanya dihitung sejak jauh-jauh hari, misalnya setelah bertunangan. Tujuannya untuk menentukan hari baik dan buruk dalam pernikahan.
Hari pernikahan yang baik dipercaya mampu menghadirkan kehidupan rumah tangga yang tentram dan penuh keberuntungan bagi calon mempelai pria dan wanita. Sebaliknya, tanggal pernikahan yang kurang baik mungkin bisa menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga kelak.
Lantas, bagaimana cara menghitung tanggal pernikahan Sunda? Ketahui selengkapnya dalam ulasan berikut.
Cara Menghitung Tanggal Pernikahan Sunda
Ada beberapa cara menghitung tanggal pernikahan Sunda, salah satunya hitungan hari yang diprediksi dengan kata “Bismillah”, “Alhamdullilah”, dan Astaghfirullah”. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari jurnal Etnomatematika Pada Kebiasaan Orang Sunda dalam Menentukan Tanggal Pernikahan dan Kecocokan Pasangan Pengantin oleh Ramli (2021):
Bismillah: Bismillah merupakan kalimat paling awal dari segala sesuatu ketika hendak mengawali suatu kegiatan.
Alhamdulillah: Alhamdulillah mengandung makna rasa syukur atas segala ketenangan dan sukacita yang sudah didapatkan.
Astaghfirullah: Astaghfirullah merupakan kalimat yang diucapkan ketika tertimpa musibah atau cobaan.
Dalam perhitungan tanggal perkawinan Sunda, ketiga kalimat di atas akan dijadikan acuan tanggal menikah. Hari baik berada pada kalimat pertama dan kedua, sedangkan kalimat ketiga harus dihindari karena menandakan hari yang kurang baik.
Sebagai contoh, A dan B hendak menggelar acara pernikahan di tanggal 8. Untuk mengetahui baik buruknya hari tersebut, maka bisa dijabarkan sebagai berikut:
Tanggal 1: Bismillah
Tanggal 2: Alhamdulillah
Tanggal 3: Astaghfirullah
Tanggal 4: Bismillah
Tanggal 5: Alhamdulillah
Tanggal 6: Astaghfirullah
Tanggal 7: Bismillah
Tanggal 8: Alhamdulillah
Melalui penjabaran tersebut, dapat dilihat bahwa tanggal 8 merupakan kalimat “Alhamdulillah”. Artinya, tanggal tersebut adalah hari yang baik untuk menyelenggarakan pernikahan.
Sebaliknya, perhitungan yang jatuh pada tanggal 6 atau 3 (Astaghfirullah) menandakan hari yang kurang baik. Sehingga, calon mempelai disarankan mengundur atau memajukan tanggal pernikahannya.
Selain cara perhitungan di atas, ada juga perhitungan tanggal pernikahan Sunda dengan metode buhun yang kerap digunakan orang tua zaman dahulu, berikut penjelasannya:
Sri: Sri merupakan urutan pertama. Sri menandakan kelimpahan sandang, pangan, dan rezeki lainnya.
Lungguh: Lungguh menempati posisi kedua. Kata ini identik dengan jabatan, kemampuan, pangkat, kekuatan, dan derajat. Seperti Sri, lungguh juga merupakan perhitungan yang baik untuk mengadakan suatu rencana, hajat, pernikahan, dan lainnya.
Dunya: Kata yang menempati posisi ketiga ini berhubungan dengan kekayaan, harta, rezeki, dan materi. Dengan kata lain, dunya merupakan tanggal yang tepat untuk melaksanakan pernikahan atau acara lainnya.
Lara: Lara berada dalam posisi keempat. Kata ini identik dengan musibah dan keburukan dalam hal kesehatan hingga ketentraman lahir-batin. Lara bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan pernikahan atau acara apa pun.
Pati: Pati menempati posisi kelima. Pati merujuk pada kerusakan rumah tangga, sial, dan nasib buruk lainnya.
Kelima kata yang sudah dijelaskan akan menjadi acuan perhitungan tanggal pernikahan Sunda. Sebagai contohnya, calon mempelai hendak menikah pada tanggal 12 safar (bulan kedua dalam kalender Islam).
Maka perhitungannya adalah 12 : 5 =2 sisa 2. Bilangan 2 berposisi pada kata lungguh yang menandakan hal baik. Karenanya, tanggal tersebut merupakan hari yang baik untuk menikah.
(GTT)
Frequently Asked Question Section
Apa Tujuan Perhitungan Tanggal Pernikahan Sunda?

Apa Tujuan Perhitungan Tanggal Pernikahan Sunda?
Perhitungan tanggal pernikahan Sunda dilakukan untuk menentukan hari yang baik dan kurang baik dalam pernikahan.
Apa Maksud Hari Baik dan Kurang Baik dalam Pernikahan?

Apa Maksud Hari Baik dan Kurang Baik dalam Pernikahan?
Hari baik dipercaya menandakan kehidupan rumah tangga yang bagus dan beruntung. Sebaliknya, hari kurang baik mewakili kehidupan rumah tangga yang buruk.
Bagaimana Cara Menghitung Tanggal Pernikahan Sunda?

Bagaimana Cara Menghitung Tanggal Pernikahan Sunda?
Ada beberapa cara menghitung tanggal pernikahan Sunda, salah satunya metode buhun.
