Konten dari Pengguna

Cara Merayakan Hari Ibu dalam Islam yang Dianjurkan Para Ulama

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hari ibu. Foto: Shutterstock/Asada Nami
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hari ibu. Foto: Shutterstock/Asada Nami

Seluruh masyarakat Indonesia serentak memperingati Hari Ibu pada 22 Desember. Ini merupakan momen yang spesial untuk mengapresiasi jasa ibu yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya.

Di momen Hari Ibu, seorang anak biasanya akan memberikan hadiah istimewa untuk ibunya. Selain itu, mereka juga bisa membuat kata-kata mutiara yang indah untuk mengekspresikan rasa sayangnya kepada ibu.

Kata-kata atau ungkapan tersebut biasanya diunggah di media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain. Tidak hanya Indonesia, negara lain seperti Inggris, Irlandia, Meksiko, dan Jepang juga turut merayakan Hari Ibu setiap tahunnya.

Hari Ibu bisa dirayakan atas inisiatif masing-masing orang. Lantas, bagaimana cara merayakan Hari Ibu dalam Islam? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut ini.

Cara Merayakan Hari Ibu dalam Islam

Pada dasarnya, penetapan Hari Ibu dalam Islam bukan termasuk perkara tasyabuh (usaha untuk meniru sosok yang dikaguminya). Sehingga, para ulama membolehkan perayaan ini.

Ilustrasi hari ibu. Foto: Shutterstock

Dijelaskan dalam Majalah Al-Azhar Edisi 317, sejumlah ulama yang membolehkannya yaitu Syekh Syauqi Allam, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Abdul Fattah Asyur, Syekh Muhammad Ismail Bakar, dan Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta Al-Mishriyyah). Mereka mengatakan bahwa peringatan Hari Ibu merupakan salah satu bentuk bakti seorang anak kepada orang tua.

Karena Hari Ibu bukanlah hari raya agama tertentu, maka tidak ada aktivitas khusus yang dianjurkan dalam Islam. Tata cara peringatannya dikembalikan pada masing-masing orang.

Biasanya, orang-orang merayakan Hari Ibu dengan suka cita. Sang anak akan memberikan hadiah tertentu kepada ibunya seperti kado, kue, bunga, dan lain-lain.

Dijelaskan dalam buku Menjadi Manusia Bijak karya Ibnu Basyar (2016), Hari Ibu sebaiknya diisi dengan kebaikan yang bersifat universal dan humanis. Umat Muslim tidak boleh merayakannya dengan perilaku tertentu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Anda bisa membuatkan makanan spesial untuk ibu, membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah, dan memberikan hadiah. Di sisi lain, Anda juga bisa mengekspresikan rasa sayang kepada ibu melalui kata-kata dan ucapan tertentu.

Para ulama menegaskan bahwa peringatan Hari Ibu bukanlah termasuk perkara bid’ah. Sebab, bid’ah itu hanya diberlakukan untuk urusan ibadah.

Kedudukan Ibu dalam Islam

Ilustrasi cara merayakan Hari Ibu. Foto: Shutter Stock

Dalam agama Islam, kedudukan seorang ibu sangatlah mulia. Bahkan diumpamakan bahwa surga seorang anak berada di bawah telapak kaki ibu.

Seorang ibu selalu memberi dan berbuat untuk anaknya. Ia rela mengorbankan apa saja untuk anaknya dan tidak pernah lupa memberi nasihat demi kebaikan kepadanya. Suatu ketika, Ibnu Umar ra bertanya kepada seseorang:

"Apakah Anda takut masuk neraka dan ingin masuk ke surga?" Orang itu menjawab, "Ya." Ibnu Umar berkata, "Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar." (HR al-Bukhari)

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Kapan Hari Ibu diperingati dalam Islam?

chevron-down

Tanggal 22 Desember.

Apa tujuan peringatan Hari Ibu?

chevron-down

Hari ini menjadi momen yang spesial untuk mengapresiasi jasa ibu yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan anaknya.

Siapa ulama yang membolehkan peringatan Hari Ibu?

chevron-down

Syekh Syauqi Allam, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Abdul Fattah Asyur, Syekh Muhammad Ismail Bakar.