Konten dari Pengguna

Child Grooming, Modus Kejahatan Seksual pada Anak yang Jarang Disadari Orang Tua

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma karena grooming. Foto: FAMILY STOCK/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sedih, murung, trauma karena grooming. Foto: FAMILY STOCK/Shutterstock

Child grooming adalah salah satu bentuk kejahatan seksual pada anak di bawah umur yang sering kali luput dari perhatian orang tua. Itu karena pelaku grooming bersembunyi di balik keramahan dan kebaikan terhadap korban, sehingga tingkat kewaspadaan terhadapnya pun jadi berkurang.

Selain itu, grooming dilakukan secara terencana dan bertahap. Prosesnya biasanya memakan waktu lama sampai korban merasa nyaman, percaya, dan orang-orang di sekitarnya tak menaruh rasa curiga.

Ketika pelaku sudah berhasil memanipulasi dan mengontrol korban, mereka akan mengajak atau bahkan memaksa korban untuk terlibat dalam tindakan seksual. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda child grooming agar anak terhindar dari modus kejahatan ini. Lantas, apa saja tanda-tanda child grooming?

Cara Mengidentifikasi Child Grooming

Ilustrasi ibu menenangkan anak sedih, murung, trauma karena grooming. Foto: Shutter Stock

Sejatinya, sulit bagi seseorang untuk mengidentifikasi perilaku child grooming karena modus kejahatan ini dilakukan secara perlahan dan halus. Terlebih, pelakunya kerap kali merupakan orang terdekat yang hampir pasti tidak dicurigai.

Namun, dalam laman Raising Children, ada sejumlah tanda-tanda umum pada anak yang sedang jadi target pelaku grooming yang bisa dikenali, yakni:

  • Sering membicarakan tentang orang dewasa, dalam hal ini tentang sosok pelaku.

  • Ingin menghabiskan banyak waktu berdua dengan pelaku.

  • Sering bolos sekolah.

  • Jarang bermain bersama teman atau mengubah kelompok (circle) pertemanan.

  • Menarik diri atau sering menghabiskan waktu sendirian di kamarnya.

  • Tiba-tiba memiliki uang atau barang baru seperti mainan, pakaian, dan perhiasan. Ketika ditanya, anak tidak ingin membicarakan siapa yang memberikan hadiah itu.

  • Tidak ingin membicarakan tentang keseharian mereka atau berbohong saat ditanya.

  • Tidak lagi mengajak orang tua untuk diskusi atau meminta saran tentang sesuatu.

  • Memiliki pemahaman seksual yang tidak sesuai dengan usianya.

Baca Juga: 6 Tanda Anak Mengalami Pelecehan Seksual

Cara Mencegah Child Grooming

Ilustrasi anak korban grooming. Foto: narikan/Shutterstock

Menurut laman Child Safety, mencegah grooming dapat dilakukan orang tua dengan cara memberikan edukasi yang tepat pada anak. Dengan begitu, anak tidak akan mudah termakan modus para pelaku grooming. Apa saja bentuk edukasinya?

1. Membantu anak memahami situasi berbahaya

Jelaskan kepada anak terkait situasi yang aman dan tidak aman untuknya. Contoh sederhana, misalnya diajak berduaan dengan orang asing di tempat sepi, maka itu bisa dikatakan tidak aman.

Selain itu, bantu anak untuk mengidentifikasi reaksi alami tubuh mereka saat merasa tidak aman. Reaksi tersebut dapat berupa jantung berdebar-debar, telapak tangan berkeringat, dan denyut nadi yang cepat.

2. Ajarkan perilaku internet sehat

Beri tahu kepada anak bahwa orang asing di dunia maya harus diwaspadai. Tanamkan pikiran untuk tidak membalas pesan dari orang asing yang tidak dikenal, terutama pada lawan jenis atau orang dewasa.

3. Edukasi tentang batasan tubuh

Ajarkan anak mengenai batasan tubuh yang boleh dan tak boleh dilihat orang lain. Dengan begitu, mereka bisa memahami orang-orang berniat jahat kepadanya. Sampaikan pula kepada anak untuk berani menolak dan menghindari perilaku serta rayuan yang menjurus ke arah seksual.

(DEL)