Ciri-Ciri Syair dalam Bahasa Indonesia Lengkap dengan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia sastra, puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan disebut dengan puisi lama. Selain gurindam, pantun, talibun, seloka, mantra, dan karmina, syair merupakan salah satu bentuk karya sastra yang masuk kategori puisi lama.
Mengutip buku Membuka Jendela Ilmu Pengetahuan Sastra Indonesia oleh Dwi Harningsih dkk (2008: 20), syair berasal dari bahasa Arab "syu’ur" yang artinya perasaan. Sedangkan menurut KBBI, syair adalah puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari empat larik dan memiliki bunyi akhiran yang sama.
Setiap syair juga memiliki cerita atau pesan dengan tema yang mengandung unsur mitos, sejarah, agama, filsafat, serta pesan lain yang bisa dipahami pendengarnya. Sedangkan orang yang membacakan atau membuat syair disebut penyair atau pujangga.
Lalu, apa saja ciri-ciri syair yang membedakannya dengan jenis puisi lama lainnya?
Ciri-Ciri Syair
Sebenarnya, syair memiliki ciri-ciri yang mirip dengan pantun. Keduanya memiliki kemiripan dalam bentuk dan ikatan-ikatan. Namun, terdapat beberapa ciri-ciri syair yang membedakannya dengan pantun, yaitu:
Setiap bait terdiri atas empat baris.
Setiap baris terdiri atas 8 sampai 14 suku kata.
Semua baris merupakan isi.
Syair bersajak aaaa.
Setiap bait syair tidak dapat berdisi sendiri.
Setiap baris teridiri atas empat kata.
Baca juga : 40 Contoh Syair Nasihat, Pendidikan, hingga Persahabatan
Contoh Syair
Agar lebih memahami syair, simak contoh syair berikut ini.
Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka Sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putra baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Parasnya elok amat sempurna,
Petah menjelis bijak laksana,
Memberi hati bimbang gulana,
Kasih kepadanya mulya dan hina.
Syair “Abduk Muluk” bertema kisah putra raja yang bijak. Sementara itu, pesan atau amanat yang ingin disampaikan adalah hendaklah kita menjadi orang yang bijak dan baik budi agar dicintai sesama.
(ADS)
