Contoh Aktiva Lancar Apa Saja? Ini Penjelasannya dalam Ilmu Akuntansi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktiva perusahaan adalah segala sesuatu yang dimiliki perusahaan mencakup barang fisik, sumber daya ekonomi, dan hak yang mempunyai nilai uang. Aktiva dibedakan menjadi dua jenis, yakni aktiva lancar dan aktiva tetap.
Dijelaskan dalam buku Matematika untuk Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi susunan Muhammad Yusup (2008), aktiva lancar adalah uang kas (tunai) atau aktiva-aktiva lainnya yang dapat dicairkan menjadi uang tunai. Jenis aktiva ini juga bisa berupa barang yang dipakai habis atau dijual selama periode operasi normal perusahaan.
Normalnya, aktiva lancar dapat dicairkan dalam waktu maksimal 1 tahun. Umur atau tingkat perputarannya tergolong relatif singkat jika dibandingkan dengan jenis aktiva lain.
Kira-kira, aktiva lancar apa saja yang bisa dimiliki perusahaan? Simak ragamnya dalam artikel berikut ini.
Contoh Aktiva Lancar yang Dimiliki Perusahaan
Para pakar ekonomi mengelompokkan aktiva lancar ke dalam beberapa jenis. Menurut Djarwanto dalam buku Pokok-Pokok Analisa Laporan (2004), aktiva lancar terdiri atas:
Kas berupa uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan.
Investasi jangka pendek (temporary investment) berupa obligasi pemerintah, obligasi perusahaan-perusahaan industri dan surat-surat utang, serta saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali.
Wesel tagih (notes receivable), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes.
Piutang dagang (account receivable) yang meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseroan yang timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.
Penghasilan yang masih akan diterima (accrual receivable), yaitu penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak lain tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan.
Persediaan barang (inventories), yaitu barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca.
Biaya yang dibayar dimuka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain itu belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan.
Berbeda dengan pendapat tersebut, Zaki Baridwan dalam buku Intermediate Accounting (2004) justru mengelompokkannya menjadi beberapa jenis saja. Beberapa di antaranya yakni sebagai berikut:
Kas yang tersedia untuk usaha sekarang dan elemen-elemen yang dapat disamakan dengan kas, misalnya cek, money order, pos wesel dll.
Surat-surat berharga yang merupakan investasi jangka pendek.
Piutang dagang dan piutang wesel.
Piutang pegawai.
Piutang angsuran dan piutang wesel angsuran.
Persediaan barang dagangan, bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi, bahan-bahan pembantu, dan bahan-bahan serta suku cadang yang dipakai dalam pemeliharaan alat-alat/mesin-mesin.
Biaya-biaya yang dibayar dimuka seperti asuransi, bunga sewa, pajakpajak, bahan pembantu dll.
(MSD)
