Contoh Hadits Dhaif beserta Tingkatan Sanad yang Perlu Diketahui Umat Muslim

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ajaran Islam, terdapat berbagai macam jenis hadits, salah satunya adalah hadits dhaif. Hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits sahih dan hasan.
Secara bahasa, dhaif artinya adalah lemah. Kata dhaif memiliki dua macam makna, yakni secara lahiriah dan juga maknawiyah. Sedangkan dalam ilmu hadits, dhaif diartikan secara maknawiyah.
Hanif Luthfi dalam bukunya Jika Dhaif Suatu Hadits, lantas apa? menyebutkan, hadits dhaif tidak sama dengan hadits palsu atau hadits maudhu. Hadits dhaif memang berasal dari Rasulullah SAW, namun perawi haditsnya tidak memiliki kredibilitas yang kuat atau terdapat silsilah sanad yang terputus.
Sementara hadits maudhu ialah hadits yang informasinya mengatasnamakan Rasulullah, namun sebenarnya bukan perkataan dari beliau.
Tingkatan Hadits Dhaif berdasarkan Sanad
Syaikh Manna Al-Qaththan dalam buku Pengantar Studi Ilmu Hadits menjelaskan, dalam hadits sahih ada yang disebut dengan istilah asahhul asanid atau sanad-sanad yang paling shahih. Sedangkan dalam hadits dhaif, terdapat istilah awhal asanid atau sanad-sanad yang paling lemah.
Berikut tingkatan hadits dhaif berdasarkan sanad sebagian sahabat Rasulullah:
Sanad paling lemah dari Abu Bakar adalah Shadaqah bin Musa Ad-Daqiqi, dari Farqad As Sabakhy, dari Murrah At-Thib, dan Abu Bakar.
Sanad paling lemah dari Ibnu Abbas adalah Muhammad bin Marwan dari Kalaby, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas.
Sanad paling lemah dari Abu Hurairah adalah As- Sariy bin Ismail, dari Dawud bin Yazin Al Azdy, dari Abu Hurairah.
Sanad paling lemah bila disandarkan kepada Syammiyyin atau orang-orang Syam adalah Muhammad bin Qais Al Maslu, dari Ubaidillah bin Zahr, dair Ali Bin Yazid, dari Qasim, dari Abu Umamah.
Agar lebih memahaminya, simak contoh hadits Dhaif berikut!
Contoh Hadits Dhaif dan Penjelasannya
Berikut contoh hadits Dhaif yang dikutip dari buku Hadits Hadits Dhaif Populer terbitan Niaga Swadaya:
Contoh Hadits Dhaif 1
Diriwayatkan oleh Umar bin Rasyid dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang sholat 6 rakaat setelah sholat maghrib dan tidak berbicara sedikit pun di antara sholat tersebut, maka baginya sebanding dengan pahala ibadah selama 12 tahun.”
Imam ahmad dan Yahya bin Main mengatakan bahwa hadits dari Umar tersebut adalah dhaif dan tidak bernilai sama sekali. Ini sependapat dengan Imam Bukhari bahwa hadits tersebut termasuk dalam hadits munkar di mana urutan sanadnya sangat lemah.
Tak hanya itu, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa tidak halal menyebut hadits di atas kecuali untuk maksud mencatatnya. Sebab, dalam suatu riwayat dikisahkan, Umar pernah memalsukan hadits atas nama Malik dan Ibn Abi Dzib.
Contoh Hadits Dhaif 2:
Diriwayatkan oleh Juraisy an-Nahdy dari seorang laki-laki Bani Sulaim, Rasulullah bersabda, “Puasa itu setengahnya kesabaran dan kesucian itu setengahnya iman.”
Imam Ibunul Maidi dalam kitab Tahdibut Tahdzin, sanad hadits ini dikatakan dhaif. Sebab, Juraisy Bin Kulaib adalah seorang mahjul atau tidak dikenal.
Contoh hadits dhaif lainnya yang senada dari hadits di atas adalah:
Diriwayatkan dari Musa bin Ubaidah, dari Abu Hurairah ra mengatakan Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu itu ada zakatnya. Zakat badan adalah puasa. Puasa itu separuh kesabaran.”
Hadist di atas juga digolongkan sebagai hadits dhaif karena Musa bin Ubaidah dinilai lemah oleh sekelompok ulama ahli hadits. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tahdibut Tahdzin, Musa dikisahkan adalah seorang yang soleh dan ahli ibadah, namun lemah dalam periwayatan hadits.
(IPT)
