Contoh Khutbah Jumat Tentang Kemerdekaan Menjelang HUT ke-81 RI

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perayaan HUT ke-81 RI tinggal menghitung hari. Inilah momen yang tepat untuk merenungkan serta mengingatkan satu sama lain tentang makna kemerdekaan Indonesia.
Menyampaikan makna kemerdekaan Indonesia pada sesama bisa dilakukan di mana saja, termasuk di mimbar khutbah Jumat. Materi khutbah tentang kemerdekaan bisa dikaitkan dengan rasa syukur berbangsa sebagai umat Islam, serta amanah untuk meneruskan semangat perjuangan.
Bagi yang butuh referensi khutbah Jumat tentang kemerdekaan, simak contoh selengkapnya di bawah ini.
Khutbah Jumat Tentang Kemerdekaan
Merangkum dari khutbah Jumat oleh Dr. Khoirul Huda Basyir yang diunggah dalam laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), berikut contoh khutbah Jumat tentang kemerdekaan.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan untuk bertemu pada hari Jumat di bulan Agustus, bulan yang bagi bangsa Indonesia memiliki makna sejarah besar sebagai bulan kemerdekaan. Melalui mimbar khutbah yang mulia ini, marilah kita bersama merenungi makna kemerdekaan bagi seorang mukmin serta bagaimana cara terbaik untuk mensyukurinya.
Kemerdekaan bukanlah konsep yang asing bagi umat Islam. Salah satu misi utama Islam adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk. Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan dan ketundukan kepada sesama, serta menghapus kekuasaan manusia atas manusia yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Gagasan ini tercermin dalam Surat Al-Fatihah ayat 5:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Ayat ini menegaskan kemerdekaan yang sesungguhnya bahwa tidak ada yang menjadi tuan bagi manusia selain Allah. Manusia tidak boleh diperbudak hawa nafsu, harta, kekuasaan, maupun sesama manusia. Maka, ketika bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan, kita sesungguhnya menegakkan kembali fitrah manusia untuk bebas dari sesamanya dan tunduk hanya kepada Allah.
Para pendiri bangsa juga memahami bahwa kemerdekaan bukan semata hasil perjuangan manusia, melainkan anugerah Allah. Hal ini tercermin dalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Karena kemerdekaan adalah nikmat Allah, maka wajib disyukuri. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya akan Kutambahkan nikmat-Ku kepadamu. Namun jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.”
Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan dan amal nyata. Allah memberikan teladan melalui keluarga Nabi Dawud:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur. Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba': 13)
Maka, mensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan mengibarkan bendera atau menggelar perayaan, tetapi dengan mengisinya melalui amal dan karya yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, serta bangsa.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil. Kemajuan bangsa pun harus dimulai dari perbaikan individu, keluarga, hingga masyarakat. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Karena itu, salah satu cara mensyukuri kemerdekaan adalah membangun sumber daya manusia yang unggul. Bangsa yang merdeka secara politik tetapi lemah dalam sumber daya akan mudah mengalami bentuk penjajahan lain, seperti kebodohan, ketergantungan, dan lemahnya mentalitas.
Allah mengingatkan dalam Surat An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka khawatirkan. Maka bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).”
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang lemah dan tertinggal. Kita harus membangun keunggulan dalam tiga aspek, yaitu kognitif, spiritual, dan jasmani.
Pertama, keunggulan kognitif. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang berilmu. Setiap individu harus rajin belajar, membaca, dan terus mengembangkan pengetahuan. Keluarga perlu membangun budaya belajar dan mengatur penggunaan gadget serta media sosial. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu menghadirkan pendidikan yang relevan, berkualitas, dan berkeadilan.
Kedua, keunggulan spiritual. Manusia yang unggul bukan hanya yang cerdas, tetapi juga memiliki jiwa dan hati yang baik. Imam Al-Ghazali menegaskan pentingnya memperbaiki hati karena dari hati lahir seluruh perbuatan manusia. Karena itu, agama tidak cukup hanya dijalankan sebagai ritual, tetapi harus menjadi landasan yang memberikan arah dalam menghadapi kehidupan.
Ketiga, keunggulan jasmani. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Karena itu, jagalah kesehatan diri dan keluarga. Perhatikan pola makan, aktivitas fisik, serta batasi penggunaan gadget dan game online yang berlebihan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Marilah kita menjadikan bulan kemerdekaan ini sebagai momentum untuk berikrar bahwa kita akan mensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan jargon dan perayaan, tetapi dengan meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan generasi penerus.
Mari menjadi manusia yang unggul akalnya, kuat jiwanya, dan sehat raganya. Dengan demikian, kita mampu mengelola nikmat dan sumber daya yang Allah berikan demi terwujudnya negeri yang adil, makmur, dan penuh keberkahan.
Sebagaimana doa yang diajarkan Nabi SAW:
اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَالْعَفْوَعِنْدَ الْحِسَابِ
“Ya Allah, kami bermohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesegaran pada tubuh, penambahan dalam ilmu, keberkahan dalam rezeki, dan kemaafan ketika amal diperhitungkan.”
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَدِمْ عِزَّةَ هٰذِهِ الْبِلَادِ، وَاجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُسْتَقِرَّةً، يَتَمَتَّعُ أَهْلُهَا بِنِعَمِ الاِسْتِقْلَالِ وَالسَّلَامِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا سُبُلَ الشُّكْرِ عَلَى نِعْمَةِ الاِسْتِقْلَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ وَ يَشْكُرُونَ. رَبَّنَا وَفِّقْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتَنَا لِيَكُونُوا أَجْيَالًا مُتَفَوِّقَةً عَقْلًا وَرُوحًا وَجَسَدًا.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ كَمَا سَأَلَكَ نَبِيُّكَ مُوسَى:
وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
Ya Allah, jadikanlah bagi kami dari sisi-Mu seorang pelindung dan seorang penolong. Lindungilah bangsa ini dari segala mara bahaya, kokohkanlah persatuan kami, dan mudahkanlah langkah kami dalam mengisi kemerdekaan ini dengan amal saleh dan karya yang bermanfaat demi tegaknya bangsa yang adil dalam kemakmuran keadilan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ...
Baca Juga: Cara Bersyukur atas Nikmat Kemerdekaan Indonesia dan Contoh Penerapannya
(MFT)
