Contoh Studi Kasus PPG tentang Penilaian sebagai Referensi Peserta

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG), peserta diwajibkan menyusun studi kasus, salah satunya tentang penilaian. Mengingat, penilaian memegang peran penting sebagai tolok ukur keberhasilan proses belajar mengajar di kelas
Dalam penyusunannya, studi kasus harus memuat empat poin utama, yaitu permasalahan yang dihadapi, langkah penyelesaian, hasil yang diperoleh, serta pelajaran berharga yang didapat. Seluruh uraian tersebut dibatasi maksimal 500 kata, sehingga harus disampaikan dengan padat dan jelas.
Agar lebih jelas, di bawah ini akan dibagikan contoh studi kasus PPG tentang penilaian yang bisa dijadikan referensi.
Contoh Studi Kasus PPG Tentang Penilaian
Berikut adalah contoh studi kasus PPG tentang penilaian yang dihimpun dari YouTube Pak Guru Wali:
Studi Kasus: Permasalahan dalam Sistem Penilaian pada Pelajaran Matematika Kelas II SD
Topik: Siswa yang Lambat Sering Mendapat Nilai Rendah
1. Permasalahan yang Dihadapi
Dalam pembelajaran Matematika kelas II SD, saya mengajarkan materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Pada akhir kegiatan, saya memberikan tes tertulis dengan durasi waktu tertentu untuk mengukur pemahaman siswa. Sistem penilaian yang digunakan sepenuhnya berbasis pada hasil tes tersebut.
Namun, saya menemukan kendala ketika beberapa siswa yang sebenarnya memahami materi justru memperoleh nilai rendah. Penyebabnya, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan soal.
Kondisi ini membuat siswa merasa kecewa dan kehilangan rasa percaya diri. Beberapa bahkan menunjukkan ekspresi sedih sambil berkomentar bahwa Matematika itu sulit.
Permasalahan ini mengindikasikan bahwa sistem penilaian yang saya terapkan belum sepenuhnya adil, karena kurang mempertimbangkan perbedaan kecepatan berpikir setiap siswa.
2. Langkah Penyelesaian
Untuk memperbaiki sistem penilaian agar lebih adil dan selaras dengan prinsip pembelajaran berdiferensiasi, saya melakukan beberapa langkah perbaikan. Pertama, saya meninjau kembali metode penilaian yang sebelumnya hanya berfokus pada hasil tes tertulis, lalu menambahkan aspek penilaian proses.
Kedua, saya memberikan soal tambahan secara lisan disertai bimbingan langsung. Ketiga, saya mulai menerapkan penilaian portofolio sederhana dengan mengumpulkan hasil kerja siswa dari berbagai aktivitas pembelajaran.
Keempat, saya memberikan penguatan positif berupa pujian atau bintang penghargaan untuk setiap kemajuan.
3. Hasil yang Diperoleh
Setelah menerapkan strategi penilaian yang baru, hasilnya cukup memuaskan. Siswa yang sebelumnya memperoleh nilai rendah mulai menunjukkan peningkatan.
Meskipun masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan soal, kepercayaan diri mereka meningkat karena merasa setiap usaha yang dilakukan dihargai.
4. Pelajaran Berharga yang Didapat
Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa sistem penilaian harus mempertimbangkan keberagaman kemampuan dan kecepatan belajar siswa. Jika penilaian hanya menitikberatkan pada hasil akhir dan kecepatan, siswa yang sebenarnya mampu justru bisa dirugikan.
Saya belajar bahwa sebagai guru, saya perlu lebih fleksibel dalam menentukan metode penilaian. Selain itu, penting untuk selalu memberikan motivasi dan dukungan emosional agar siswa merasa dihargai dan bersemangat untuk belajar.
Baca Juga: Soal Try Out PPG 2025 PGSD beserta Kunci Jawabannya
(NSF)
