Contoh Teks Monolog Bahasa Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teks monolog merupakan salah satu bagian dari naskah drama. Monolog hanya mengandung percakapan satu tokoh tanpa adanya balasan atau komunikasi dengan tokoh lainnya.
Secara harafiah, monolog berasal dari bahasa Yunani dari kata mono yang artinya satu dan legein yang artinya berbicara. Burhan Nurgiayantoro dalam buku Stulistika menyebutkan, monolog bisa disebut juga sebagai mono drama. Para tokohnya melakukan sandiwara tunggal dengan membawakan percakapan seorang diri.
Dikutip dari Jurnal Implikatur Percakapan Pada Naskah Monolog karya Ni Nyoman Anna Pratiwi, dkk., persoalan yang diangkat dalam drama monolog biasanya masalah sehari-hari yang terjadi di masyarakat.
Agar lebih memahami tentang teks monolog, berikut contoh teks monolog yang bisa dipelajari.
Contoh Teks Monolog
Dikutip dari buku Bahasa Indonesia oleh Nani Darmayanti, berikut contoh teks monolog yang diambil dari penggalan teks drama monolog berjudul Bahaya karya Putu Wijaya:
DUDUK DI KURSI MEMAKAI SELIMUT PUTIH, HABIS CUKUR. CAMBANGNYA MAU DI KEROK.
Ketika tukang cukur menghunus pisau untuk meratakan godek, aku tersentak. Aku baru menyadari bahwa kehidupan berbahaya. Dunia manusia sama buasnya dengan rimba raya. Mengancam. Di mana-mana menganga bahaya.
Siapa yang dapat menjamin tukang cukur itu tidak hanya akan merapikan godek dan jenggot kita. Bagaimana kalau dia menorehkan pisah itu ke leherku?
BERDIRI, MENGHINDARI BAHAYA.
Kita tidak boleh mengambil resiko untuk potong rambut di sembarang tempat. Karena berhubungan dengan tukang potong rambut yang tak dikenal, setiap saat bisa berarti memotong leher. Bahkan dengan tukang cukur yang sudah dikenal pun selalu ada bahaya.
Bagaimana kalau pisau yang terhunus di tangannya itu menimbulkan inspirasinya, memanggil kenang-kenangannya kepada perasaan marah, jengkel atau keki. Mungkin terhadap orang lain. Tapi bisa saja emosi itu sudah menggerakkannya untuk memaksa kita jadi sasaran pelepasan.
Apalagi kalau kita pernah dengan tidak kita sadari sudah melukai perasaannya, tidak menyahut waktu ia menyapa, atau kita lupa membayar hutang kita waktu bercukur yang lalu. Ia kan juga seorang manusia biasa yang bisa goyah hatinya kalau memegang pisau?!
Dengan pikiran seperti itu, aku jadi takut potong rambut secara lengkap. Kalau rambut sudah digunting, aku langsung bilang stop. Tidak usah dirapikan dengan pisau.
MELEPASKAN SELIMUT DAN MEMBUANGNYA
Aku tak pernah lagi memberikan kesempatan tukang cukur memegang pisau, apalagi di dekat leherku. Bukan hanya dari tukang cukur. Dari setiap sudut, 360 derajat memancar ancaman.
Di mana-mana ada bahaya. Coba apa jaminannya, kalau kita pesan makanan di restoran, koki restoran itu tidak memasukkan racun tikus ke dalam makanan? Kita tidak tahu siapa yang memasak di belakang sana.
Kita tidak bisa nyelonong ke belakang dan melihat mereka memasukkan bumbu ke dalam masakan, setiap kali mau makan. Bisa saja mereka itu koki-koki gila. Seorang pembunuh. Atau musuh kita yang menyamar jadi koki. Dengan gampang ia memasukkan baygon atau air accu bekas, lalu cuci tangan. Sementara satu atau dua jam kemudian kita akan kaku dilarikan ke gawat-darurat, tapi tak tertolong lagi.
Dan jaminan apa yang ada di jalan raya, yang dapat menjamin mobil yang datang dari arah depan atau belakang kita, tidak akan menggilas kita? Jaminan apa yang dapat kita andalkan, bus yang kita tumpangi tidak akan dibelokkan oleh supir masuk ke dalam jurang? Jaminan apa yang dapat kita andalkan, dokter-dokter bukannya memberikan obat penyembuh, tapi ramuan kimia yang justru merangsang kanker ganas di tubuh kita?
Jaminan apa yang bisa menjamin kita aman di dalam rumah. Bahwa kabel listrik tidak akan putus lalu menyengat kita yang sedang enak-enak tidur. Di mana-mana, baik di rumah, di jalan raya, di sekolah, di kantor, bahkan di WC, selalu ada bahaya mengintai. Kita hidup tanpa perlindungan. Kita harus melindungi diri kita.
Aku mulai sakit karena pikiran-pikiran itu. Aku begitu cemas. Aku sudah memvonis orang lain adalah pembunuh. Kehidupan adalah ranjau. Dunia adalah gelanggang pembantaian.
Jalan satu-satunya adalah mengasingkan diri. Aku memperkecil hubunganku dengan siapa saja. Aku berusaha menyendiri dan juga mempersenjatai diri dengan rasa awas, was-was dan curiga terhadap segalanya.
(IPT)
