Deretan Pahlawan yang Berprofesi Sebagai Guru, dari Soekarno hingga Dewi Sartika

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak 1994, masyarakat Indonesia sudah menyepakati tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap para guru yang sudah berjuang demi Indonesia.
Walau tak berjuang di medan perang, guru adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Ini karena guru menanggung peran yang besar untuk mencerdaskan dan membentuk kepribadian bangsa. Tanpa kehadiran guru, suatu negara tidak akan bisa berkembang ataupun maju.
Namun tahukah Anda, beberapa pahlawan di Indonesia rupanya pernah menjadi seorang guru. Salah satunya adalah Ir. Soekarno atau Presiden pertama RI.
Selain Soekarno, berikut deretan pahlawan Nasional yang juga berprofesi sebagai guru.
Ir. Soekarno
Sebelum menjabat sebagai Presiden, Soekarno rupanya sempat menjadi guru. Pria kelahiran 1901 ini mengajar ilmu agama Islam di sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah. Profesi ini dijalaninya ketika hidup dalam pengasingan Belanda.
RA Kartini
RA Kartini tentunya sudah tak asing bagi masyarakat Indonesia. Pemilik nama Raden Ayu ini dikenal sebagai sosok pahlawan yang memperjuangkan emansipasi wanita di Tanah Air.
Selain menjadi penulis, Kartini ternyata juga menjadi seorang guru. Ia mengajarkan baca tulis dan kesenian lokal seperti menjahit dan membatik.
KH Hasyim Asy’ari
KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri dari Nahdatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Tanah Air.
Selain berjuang melawan penjajah, ia juga berusaha mencerdaskan bangsa dengan menjadi guru. Dirinya mengajarkan ilmu agama dan nilai nasionalisme kepada murid-murid di pesantren.
Dewi Sartika
Dewi Sartika menjadi salah satu pahlawan yang berprofesi sebagai guru. Dikutip dari Dinas Pendidikan Jabar, ia mengajar perempuan di dapur pendopo sebelum membangun Sekolah Kautamaan Istri.
Pekerjaan itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh ayahnya. Sebab, sang ayah menganggap kaum perempuan sebagai sosok yang berakhir di dapur.
(GTT)
