Doa Menurunkan Jenazah ke Liang Kubur yang Bisa Diamalkan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam agama Islam, saat sesorang meninggal dunia, ada serangkaian proses yang perlu dilakukan hingga jenazahnya selesai dimakamkan. Mulai dari memandikan sampai menguburkan, semuanya harus mengikuti aturan yang ditetapkan, termasuk saat menurunkan jenazah ke liang kubur.
Rasulullah SAW menganjurkan agar jenazah segera dikuburkan. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Segerakanlah menguburkan jenazah.” (HR. Bukhari Muslim)
Mengutip buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Mustahdi dan Mustakim (2014), prosesi penguburan jenazah sebaiknya dilakukan pada siang hari. Boleh dilakukan pada malam hari jika dalam keadaan terpaksa, seperti karena bau yang sangat menyengat meski sudah diberi wewangian atau karena alasan lainnya yang harus disegerakan untuk dikubur.
Seperti yang telah dikatakan, prosesi penguburan harus sesuai ajaran Islam. Itu termasuk doa yang harus dilafalkan saat menurunkan jenazah ke liang kubur. Bagaimana bacaan doanya?
Doa Menurunkan Jenazah ke Liang Kubur
Dalam sebuah riwayat sahabat Ibnu Umar RA, dikatakan bahwa apabila menurunkan jenazah dalam kubur, Rasulullah SAW membaca:
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Bismillāh wa ‘alā sunnati rasūlillāh.
Artinya, “Dengan nama Allah dan atas sunnah rasul-Nya.”
Dalam riwayat lain, doa tersebut berbunyi sebagai berikut:
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Bismillāh wa ‘alā millati rasūlillāh.
Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasul-Nya.”
Di samping doa tersebut, dilansir dari Nu Online, Imam Syafi’I menganjurkan orang yang menurunkan jenazah ke dalam kubur membaca doa berikut, yang tercantum dalam Mukhtashar Al-Muzanni.
اللَّهُمَّ أَسْلَمَهُ إِلَيْكَ الأَشِحَّاءُ مِنْ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ، وَقَرَابَتِهِ وَإِخْوَانِهِ، وَفَارَقَ مَنْ كَانَ يُحِبُّ قُرْبَهُ، وَخَرَجَ مِنْ سَعَةِ الدُّنْيَا وَالحَيَاةِ إِلَى ظُلْمَةِ القَبْرِ وَضِيْقِهِ، وَنَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرَ مَنْزُوْلٍ بِهِ، إِنْ عَاقَبْتَهُ فَبِذَنْبٍ، وَإِنْ عَفَوْتَ عَنْهُ فَأَنْتَ أَهْلُ العَفْوِ، أَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، وَهُوَ فَقِيْرٌ إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ اشْكُرْ حَسَنَتَهُ، وَاغْفِرْ سَيِّئَتَهُ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَاجْمَعْ لَهُ بِرَحْمَتِكَ الأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ، وَاكْفِهِ كُلَّ هَوْلٍ دُوْنَ الجَنَّةِ، اللَّهُمَّ اخْلُفْهُ فِي تَرِكَتِهِ فِي الغَابِرِيْنَ، وَارْفَعْهُ فِي عِلِّيِّيْنَ، وَعُدْ عَلَيْهِ بِفَضْلِ رَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allāhumma, aslamahū ilaikal asyihhā’u min ahlihī wa waladihī, wa qarābatihī wa ikhwānihī; wa fāraqa man kāna yuhibbu qurbahū, wa kharaja min sa‘atid dunyā wal hayāti ilā zhulmatil qabri wa dhīqihī; wa nazala bika wa anta khairu manzūlin bihī. In ‘āqabtahū fa bi dzanbin. Wa in ‘afauta ‘anhu fa anta ahlul afwi. Anta ghaniyyun ‘an ‘adzābihī wa huwa faqīrun ilā rahmatika. Allāhummasykur hasanatahū, waghfir sayyi’ātahū, wa a‘idzhu min ‘adzābil qabri, wajma‘ lahū bi rahmatikal amna min ‘adzābika, wakfihī kulla haulin dūnal jannati. Allāhummakhlufhu fī tarikatihī fil ghābirīna, warfa‘hu fī ‘illiyyīna, wa ‘ud ‘alaihi bi fadhli rahmatika, yā arhamar rāhimīna.
(ADS)
