Konten dari Pengguna

Dongeng Sebelum Tidur yang Panjang untuk Buah Hati Tercinta

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 11 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dongeng sebelum tidur yang panjang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dongeng sebelum tidur yang panjang. Foto: Unsplash

Dongeng adalah sebuah kisah dengan alur yang menarik, berkesan, dan punya nilai moral yang dapat diambil. Kisahnya selalu diturunkan dari generasi ke generasi.

Dongeng bisa menjadi media hiburan sekaligus belajar bagi anak-anak. Mereka bisa belajar mengenal hal baik dan buruk dari kisah yang diceritakan dalam dongeng.

Selain itu, membacakan dongeng juga menjadi cara yang ampuh untuk membangun kedekatan antara orang tua dan anak serta perkembangan kreativitasnya. Tak jarang membacakan dongeng pada anak sebelum tidur dapat merangsang kantuk.

Untuk membuat anak menjadi interaktif ketika Anda berdongeng, berikanlah intonasi dan ekspresi yang sesuai dengan dialog. Hal itu juga menghidupkan karakter tokoh dalam cerita.

Empat Jenis Dongeng

Ilustrasi orang tua dan anak membaca dongeng. Foto: Unsplash

Berdasarkan buku Keajaiban Dongeng: Teori dan Praktik Mendongeng oleh Agus D. S., dkk., dongeng digolongkan menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Dongeng Binatang

Dongeng jenis ini memunculkan tokoh binatang yang dapat bertutur kata, berpikir, dan memiliki perangai layaknya manusia. Contohnya seperti fabel (cerita hewan) Kancil dan Buaya.

2. Dongeng Biasa

Dongeng biasa tergolong jenis dongeng dengan lakon yang diperankan oleh manusia. Biasanya, isi cerita mengenai suka duka kehidupan. Contoh yang sudah tidak asing lagi yaitu cerita rakyat Malin Kundang, Sangkuriang, serta Bawang Merah dan Bawang Putih.

3. Dongeng Lelucon atau Anekdot

Jenaka dan memancing tawa. Inilah ciri khas dari dongeng lelucon atau anekdot. Selain lucu, terkadang jenis dongeng ini juga berisi kritik mengenai situasi atau orang tertentu. Contohnya seperti cerita Si Kabayan atau Abu Nawas.

4. Dongeng Berumus

Dongeng berumus memiliki struktur yang terdiri dari pengulangan. Ada tiga macam dongeng berumus, yaitu dongeng berantai, dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak punya cerita akhir.

Baca Juga: 6 Dongeng Pendek untuk Anak SD yang Menghibur dan Penuh Pesan Moral

Contoh Dongeng Sebelum Tidur yang Panjang

Ilustrasi orang tua membacakan dongeng kepada anak-anak. Foto: Unsplash

Tidak hanya Indonesia, negara lain pun turut meramaikan kompilasi dongeng anak di seluruh dunia. Contohnya, dongeng panjang berjudul Petani Serakah yang berasal dari Turki.

Dikutip dari buku Kumpulan Dongeng Mancanegara oleh Emha Yudhistira dan 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto, berikut adalah beberapa contoh dongeng panjang yang bisa dibacakan untuk anak sebelum tidur.

1. Putri Raja Bernapas Bau

Di sebuah wilayah Tiongkok, ada sebuah kerajaan dengan penduduk yang terkenal ramah. Sang Raja memiliki anak yang cantik jelita. Suatu hari, dirinya terkejut karena bangun tidur dengan napas bau yang begitu menyengat.

Segeralah dia bangun dan membersihkan diri. Namun, cara tersebut tidak membantu menghilangkan bau mulutnya. Ternyata, seluruh negeri pun turut mempunyai napas yang bau.

Akibatnya, seluruh kerajaan tidak berani berbicara karena malu. Raja bertanya kepada penasihatnya.

“Wabah apa yang sedang terjadi di negeriku?”, tanya Raja. Penasihatnya hanya diam, sebab takut bau mulutnya akan merebak. Dia pun tidak tahu penyebab wabah itu.

Suatu hari, sang Putri berjalan-jalan di taman kerajaan bersama para dayangnya. Mereka asyik bermain tanpa berbicara. Saat sedang bermain, seekor burung murai terbang melewati mereka secara tiba-tiba.

Burung murai itu membuat Putri tertarik. Dia mengikuti burung itu terbang hingga hinggap di sebatang pohon yang sedang berbunga sambil berkicau.

Setelah selesai bernyanyi, burung murai mematuk bunga pada dahan pohon tempatnya bertenggar. Beberapa bunga jatuh dan sang Putri mengambilnya.

Sang Putri memakan bunga itu karena wangi. Dia berharap napasnya akan kembali wangi setelah memakan bunga itu.

Beberapa hari kemudian, napas sang Putri menjadi harum. Mendengar hal itu, Raja heran bertanya kepada anaknya. Putri bercerita mengenai pohon bunga di taman kerajaan.

Raja bergegas mencoba memakan bunga itu untuk membuktikan perkataan sang Putri. Benar saja, Raja tidak lagi memiliki bau mulut beberapa hari kemudian.

Kabar itu menyebar hingga penduduk negeri datang ke istana untuk memakan bunga tersebut. Akhirnya, seluruh rakyat punya napas yang harum, sehingga mereka dapat mengobrol, bernyanyi, dan bergembira seperti sedia kala.

Akhir cerita, Raja memerintahkan rakyatnya untuk menanam pohon bunga seperti di taman istana. Bunga yang sedap baunya itu kemudian dikenal dengan nama bunga cengkih.

2. Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Hiduplah sepasang suami istri dengan anak perempuannya yang cantik jelita di negeri Aceh. Selain cantik, ia juga rajin dan sangat menyayangi keluarga.

Seorang pemuda tampan ingin meminang gadis itu. Ia berasal dari keluarga terhormat dan kaya raya di negeri seberang. Si gadis menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan amat meriah.

Setelah beberapa hari, pemuda itu hendak pulang ke kampung halaman. Ia mengajak istrinya. Hati sang istri amat berat meninggalkan keluarga dan desanya. Namun, ia harus mengikuti ajakan suami sebagai tanda bakti dan kesetiaan kepada suaminya.

"Anakku, tinggallah di negeri suamimu," pesan sang ayah. "Ingatlah, selama dalam perjalanan, jangan menoleh ke belakang. Jika melakukannya, kau akan menjadi batu!"

Si gadis dan suaminya pun meninggalkan desa. Mereka memulai perjalanan jauh menuju negeri di seberang lautan. Hingga tibalah mereka di Danau Laut Tawar. Mereka menaiki sebuah sampan dan menyeberangi danau itu.

Saat sampan mengarungi danau, si gadis mendengar suara ibunya. Suara itu terus memanggil-manggil namanya. Kejadian itu berlangsung lama. Akhirnya si gadis lebih memilih menoleh. Petaka pun seketika terjadi.

Sesaat setelah si gadis menolehkan wajahnya ke belakang, seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.

Betapa sedih hati sang suami. Karena terlalu cinta, sang suami ingin selalu bersama istrinya. Ia lantas memohon kepada Tuhan agar dirinya berubah menjadi batu. Selesai memohon, tubuh si pemuda berubah menjadi batu. Sepasang batu itu berada di tepi Danau Laut Tawar.

3. Dongeng Anak Si Kancil dan Siput

Pada suatu hari si kancil nampak mengantuk sekali. Matanya serasa berat untuk dibuka. "Aaarrrrgh," si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya.

Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si kancil berteriak dengan sombongnya, "Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku."

Sambil membusungkan dadanya, si kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. "Hai kancil!" sapa si siput. "Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?" tanya si siput.

"Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar," jawab si kancil dengan sombongnya.

"Sombong sekali kamu kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini," kata si siput. "Hahahaha.., mana mungkin," ledek Kancil.

"Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?" tantang si siput. "Baiklah, aku terima tantanganmu," jawab si kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

Setelah si kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman- temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.

Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. "Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku?" tanya si kancil. "Tentu saja sudah, dan aku pasti menang," jawab si siput.

Kemudian si siput mempersilakan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput. Kancil berjalan dengan santai dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput.

"Siput... sudah sampai mana kamu?" teriak si kancil. "Aku ada di depanmu!" teriak si siput. Kancil terheran-heran dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi dan si siput menjawab dengan kata yang sama. "Aku ada didepanmu!"

Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan napasnya tersengal-sengal.

Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. "Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!" teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya.

"Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik," kata si siput. "Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi," kata si kancil.

4. Batu Menangis

Di pedalaman Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis yang cantik jelita. Ia tinggal bersama ibunya. Ayahnya telah lama meninggal. Sayangnya, gadis cantik itu sangat angkuh, pemalas, dan manja.

Setiap hari kerjanya hanya berdandan di rumah. Segala kebutuhannya harus dipenuhi. Ia tidak peduli ibunya yang setiap hari bekerja. Si ibu sangat sedih melihat perilaku putrinya. Putrinya sering memerintah dan berkata kasar.

Suatu hari, si ibu dan anaknya pergi ke desa untuk berbelanja. Penampilan mereka yang jauh berbeda menarik perhatian banyak orang. Seorang pemuda menyapa si gadis dengan ramah, "Hai, gadis cantik, siapakah namamu? Apakah yang berjalan bersamamu itu ibumu?"

Si gadis pun amat marah dan berkata, "Tentu saja dia bukan ibuku. Dia hanya budak!"

Ibunya sangat sedih mendengar kata-kata anaknya. Dengan hati hancur, ia memanjatkan doa kepada Tuhan, "Tuhanku, rasanya sudah cukup hamba bersabar. Sudah tak sanggup lagi hamba menahan sakit hati atas keangkuhannya. Berikan dia pelajaran, ya, Tuhanku."

Tuhan Yang Maha Mendengar pun mengabulkan permohonan si ibu. Pelan-pelan tubuh si gadis itu berubah menjadi batu dari kaki hingga ke perutnya.

"Ibu, maafkan aku," ujar gadis itu memohon. "Ampuni aku, Bu..."

Namun, semua sudah terlambat. Akhirnya seluruh tubuh si gadis berubah menjadi batu. Meskipun telah menjadi batu, orang bisa melihat kedua belah matanya mengeluarkan air seperti orang sedang menangis. Batu yang mulanya berasal dari gadis yang dikutuk ibunya dikenal dengan nama Batu Memangis.

5. Bawang Merah dan Bawang Putih

Alkisah, ada seorang janda dengan kedua anaknya. Seorang bernama Bawang Merah dan seorang bernama Bawang Putih. Entah mengapa, janda itu lebih menyayangi Bawang Merah yang memang lebih pintar mengambil hati ibunya, daripada Bawang Putih yang rajin.

Ibu mereka selalu mempercayai kata-kata Bawang Merah, walau tidak semua benar. Bawang Merah suka menjelek-jelekkan Bawang putih di depan ibunya, sehingga ibu mereka menjadi semakin benci dengan Bawang Putih.

Bawang Putih semakin disia-siakan. Ia sering dicaci maki dan tidak diberi makan. Ia juga harus mengerjakan semua tugas rumah tangga dan melayani Bawang Merah.

Suatu hari ketika sedang mencuci, Bawang Putih yang kelelahan tidak sengaja menghanyutkan salah satu selendang Bawang Merah.

Ketika mengetahui salah satu selendangnya hilang, Bawang Merah marah. Ia terus memaki Bawang Putih dan memukulinya. Ibunya juga mengusirnya dan tidak memperbolehkannya pulang sebelum selendang itu ditemukan.

Sambil menangis, Bawang Putih menyusuri sungai dan bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Tapi, tidak ada seorang pun pernah melihat selendang Bawang Merah.

Tiba-tiba Bawang Putih melihat seorang kakek yang membawa banyak sekali labu. Ia kelihatan sangat kepayahan membawa labu-labu itu. Bawang Putih merasa kasihan. Ia segera membantu kakek tersebut.

Sesampainya di gubuk, kakek itu bertanya kenapa raut wajahnya begitu sedih. Bawang Putih menceritakan tentang selendang Bawang Merah yang masih harus ia temukan.

Kakek itu mengeleng-geleng mendengar cerita Bawang Putih, lalu ia memberikan sebuah labu kepada Bawang Putih. "Pulanglah! Berikan labu ini untuk kakak dan ibumu." Setelah berkata seperti itu, sang kakek langsung pergi begitu saja.

Sesampainya di rumah, Bawang Putih segera memberikan labu itu kepada ibunya. Saat mereka membelahnya, keluar beraneka macam permata yang sangat indah dan mahal.

Bawang Merah dan ibunya yang tamak amat girang. Mereka langsung bertanya dengan ramah pada Bawang Putih siapa yang memberikan labu ini. Dengan lugu, Bawang Putih menceritakan semuanya.

Bawang Merah dan ibunya bergegas mengenakan pakaiannya yang terbagus dan mencari kakek yang diceritakan oleh Bawang Putih. Tidak lama setelah mereka pergi, hujan turun amat lebat. Bawang Putih amat khawatir, karena kakak dan ibunya tidak kunjung pulang.

Esok paginya ketika ia hendak mencari mereka, salah seorang tetangganya memberitahukan kalau kakak dan ibunya telah tewas tenggelam. Sejak saat itu ia tinggal seorang diri.

Beberapa bulan kemudian, ia berkenalan dengan seorang petani yang jujur. Mereka lalu menikah dan hidup bahagia di rumah mereka yang mungil, dikelilingi anak-anak mereka yang lucu dan manis.

6. Petani Serakah

Pak Petani selalu ingin mendapatkan banyak uang. Pada musim semi, ia berseru kepada Tuhan, "Jika hari cerah, aku akan menuai gandumku."

Pada hari berikutnya, matahari bersinar dengan cerah, Pak Petani pun menuai sebagian gandumnya. Setelah itu ia berseru kepada Tuhan lagi, "Seandainya hari ini hujan, pasti baik untuk gandumku yang lain."

Esok harinya turun hujan. Pak Petani berkata, "Jika hujannya lebih lebat, gandumku pasti lebih cepat tumbuh." Pada hari berikutnya hujan kembali turun.

Musim panas tiba, Pak Petani memanen gandum dan menumpuknya menjadi satu di ladang. Selesai bekerja, Pak Petani berkata, "Tuhan, seandainya Kau memberi lebih banyak hujan, pasti hasil panenku jauh lebih besar dari ini."

Musim panas masih berlangsung. Pak Petani ingin segera menanam gandum. Ia berseru dengan kesal, "Mengapa Engkau tidak memberiku lebih banyak hujan, Tuhan? Berilah hujan sehingga aku bisa segera menanam gandum dan memanennya!"

Tuhan kemudian menurunkan hujan yang sangat lebat hingga berhari-hari. Banjir melanda ladang Pak Petani. Seluruh gandum Pak Petani hanyut terbawa air.

(DAF & SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan dongeng?
chevron-down

Dongeng adalah sebuah kisah dengan alur yang menarik, berkesan, dan punya nilai moral yang dapat diambil. Kisahnya selalu diturunkan dari generasi ke generasi.

Apa saja jenis-jenis dongeng?
chevron-down

Dongeng digolongkan menjadi empat bagian, yaitu dongeng binatang, dongeng biasa, dongeng lelucon atau anekdot, dan dongeng berumus.

Apa saja macam-macam dongeng berumus?
chevron-down

Ada tiga macam dongeng berumus, yaitu dongeng berantai, dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak punya cerita akhir.