Efek Trickle-Down Economics Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Kelas Bawah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trickle-Down Economics adalah teori ekonomi yang diperkenalkan oleh Albert Hirschman dan kemudian dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat ke-40, Ronald Reagan. Teori ini digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Konsep ini menitikberatkan kebijakan ekonomi pada kelompok berpendapatan tinggi dengan harapan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Lantas, dalam teori Trickle-Down Economics, efek apa yang diharapkan terjadi pada pendapatan rumah tangga kelas bawah?
Dalam Teori Trickle-Down Economics, Efek Apa yang Diharapkan Terjadi pada Pendapatan Rumah Tangga Kelas Bawah?
Disadur dari laman EBSCO, Trickle-Down Economics merupakan teori yang menyatakan bahwa kebijakan yang menguntungkan kelompok berpendapatan tinggi atau pelaku usaha dapat mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Manfaat dari pertumbuhan tersebut kemudian diharapkan dapat "menetes" kepada masyarakat berpendapatan rendah. Adapun beberapa kebijakan yang sering dikaitkan dengan Trickle-Down Economics antara lain:
Pemotongan pajak penghasilan.
Keringanan pajak atas keuntungan modal (capital gains).
Pengurangan bea materai (stamp duty).
Deregulasi.
Penghapusan batas remunerasi, seperti gaji dan bonus.
Lantas, apa efek yang diharapkan terjadi pada pendapatan rumah tangga kelas bawah? Dalam teori Trickle-Down Economics, pendapatan rumah tangga kelas bawah diharapkan meningkat sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi.
Dengan bertambahnya investasi dan aktivitas usaha, lapangan kerja diperkirakan semakin luas sehingga masyarakat berpendapatan rendah memiliki kesempatan memperoleh penghasilan yang lebih baik dan meningkatkan kesejahteraannya.
Kritik Terhadap Trickle-Down Economics
Meski menawarkan berbagai manfaat, teori Trickle-Down Economics juga menuai banyak kritik. Kritikus menilai bahwa pemotongan pajak dan berbagai kebijakan yang menguntungkan kelompok kaya maupun perusahaan tidak selalu memberikan manfaat bagi masyarakat kelas pekerja dan kelas menengah seperti yang dijanjikan.
Disadur dari laman JBS Corp, berikut beberapa kritik utama terhadap teori Trickle-Down Economics:
1. Meningkatkan konsentrasi kekayaan
Pemotongan pajak bagi kelompok kaya dinilai membuat kekayaan semakin terkonsentrasi pada segelintir orang. Kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan pendapatan antara kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan rendah.
2. Tidak efektif menciptakan lapangan kerja
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak perusahaan tidak menggunakan penghematan pajak untuk memperluas usaha atau merekrut lebih banyak pekerja. Sebaliknya, dana tersebut lebih sering dialokasikan untuk pembagian dividen, pembelian kembali saham (share buyback), atau kepentingan bisnis lainnya yang tidak secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3. Manfaat lebih banyak dinikmati kelompok kaya
Kritikus berpendapat bahwa manfaat dari kebijakan Trickle-Down Economics cenderung lebih besar dirasakan oleh kelompok kaya dan perusahaan, sementara kelas pekerja maupun kelas menengah hanya memperoleh sedikit manfaat, bahkan terkadang tidak merasakan dampak yang berarti.
4. Bergantung pada kondisi ekonomi
Efektivitas Trickle-Down Economics dinilai sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi saat kebijakan diterapkan. Ketika ekonomi sedang melemah atau mengalami resesi, perusahaan umumnya lebih memilih menghemat pengeluaran dan menjaga cadangan kas daripada meningkatkan investasi atau membuka lapangan kerja baru.
Baca juga: Ekonomi China Kuartal II 2026 Cuma Tumbuh 4,3%, Terlemah dalam 3 Tahun Terakhir
(RK)
