El Nino 2026 Sampai Kapan akan Berlangsung? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, Indonesia tengah dilanda salah satu fenomena perubahan iklim yang disebut El Nino. Fenomena ini terjadi akibat memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.
Merespons fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini tengah memperkuat langkah mitigasi melalui Operasional Modifikasi Cuaca (OMC). Mitigasi ini dilakukan di wilayah prioritas Indonesia sembari menunggu respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak untuk mencegah terjadinya kekeringan.
Lantas, fenomena El Nino 2026 sampai kapan akan berlangsung? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
El Nino 2026 Sampai Kapan akan Berlangsung?
Merujuk laman resmi BMKG, fenomena El Nino akan terus terjadi hingga awal kuartal pertama di tahun 2027. Puncak intensitas pun diprediksi melebihi kategori kuat.
Terlebih, dengan adanya potensi kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada periode September hingga Desember 2026, El Nino diprediksi akan semakin parah.
BMKG telah mencatat data kondisi musim dan cuaca di sejumlah wilayah Indonesia hingga pertengahan Juli 2026 yang mencakup:
509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5% dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau
77 ZOM atau sekitar 11,8% dari total luas daratan Indonesia masih mengalami musim hujan.
113 ZOM atau sekitar 33,7% dari total luas daratan Indonesia masih berada di area tipe satu musim.
437 ZOM atau sekitar 33,7% dari total luas daratan Indonesia menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang.
Prediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus yang melingkupi 48,84% wilayah, dan pada September mencakup 25,41% wilayah daratan.
Sejumlah wilayah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang.
Di PRH Katerban, Kaligesing, Kab. Purworejo, Provinsi Jawa Tengah mengalami HTH terpanjang selama 80 hari.
Curah hujan kategori tinggi diprediksi baru mulai muncul bertahap pada Oktober hingga November 2026
Terdeteksi sebanyak 5.019 titik panas yang mendominasi wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
Antisipasi Masyarakat Terhadap El Nino
Terjadinya fenomena El Nino di Indonesia memengaruhi banyak sektor, mulai dari pertanian hingga kesehatan masyarakat. BMKG memberikan rekomendasi langkah penanganan risiko El Nino kepada masyarakat, di antaranya sebagai berikut:
Sektor Pertanian
Para pelaku usaha tani perlu menyusun strategi jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki ketahanan saat kondisi kering.
Sektor Sumber Daya Air (SDA) dan Energi
Para pelaku diimbau menghitung ketersediaan air baku, menentukan volume air bendungan, serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA untuk mengendalikan lonjakan konsumsi energi.
Sektor Kesehatan Masyarakat
Kualitas udara akan semakin turun dengan minimnya curah hujan. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit ISPA. Para tenaga kesehatan serta masyarakat perlu waspadai risiko ini dan menanggapinya dengan cepat sebagai bentuk pencegahan sebaran penyakit DBD, malaria, dan ancaman heat-stroke akibat cuaca panas ekstrem.
Sektor Kehutanan dan Kebencanaan
Wajib meningkatkan kesigapan menghadapi potensi kekeringan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sektor Perikanan dan Tambak Garam
Memanfaatkan momentum kemarau untuk mengoptimalkan produksi garam serta memaksimalkan fenomena upwelling untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan.
Baca Juga: BMKG Ungkap Wilayah Paling Terdampak El Nino, Ada Peluang Produksi Garam Naik
(MFT)
