Fenomena Manusia Silver yang Ramai Dibicarakan, Apa Bahayanya Mengecat Kulit?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ramai beredar di media sosial tentang sosok bayi yang penuh dengan cat silver di tubuhnya. Bayi malang ini dibawa oleh sepasang suami istri untuk mengamen di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Mirisnya, belakangan diketahui bahwa sepasang suami istri itu bukanlah orangtua kandung si bayi.
Lantas, Dinas Sosial pun mengambil langkah untuk memulangkan bayi tersebut ke orangtuanya. Dinsos juga berencana merazia orang-orang yang mengeksploitasi balita di sekitar Tangsel dan memastikan hal tersebut tidak terulang lagi.
Fenomena manusia silver ini bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia. Tidak hanya di kota-kota besar, manusia silver juga mulai menyebar hingga ke beberapa kota lainnya. Faktor ekonomi dan kebutuhan hidup kerap menjadi alasan mereka menjadi manusia silver.
Apa itu manusia silver dan seperti apa bahayanya?
Fenomena Manusia Silver dan Bahayanya
Manusia silver adalah sebutan untuk orang-orang berpenampilan nyentrik yang melumuri hampir seluruh tubuh mereka dengan cat warna silver. Mereka biasa ditemukan di jalanan, lampu merah ataupun tempat umum dengan membawa kardus bertuliskan 'sumbangan'.
Pekerjaan manusia silver tidak jauh berbeda dengan pengamen. Mereka kerap meminta uang dan belas kasih orang-orang yang ditemuinya di jalan. Pekerjaan ini mereka lakukan dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Meski begitu, keberadaan manusia silver kerap memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat. Sebagian besar menyayangkan keberadaan manusia silver karena dinilai bisa membahayakan kesehatan pelakunya. Mengingat cat yang biasa digunakan ini banyak mengandung bahan kimia berbahaya.
Jenis cat yang biasa digunakan manusia silver ialah cat minyak. Kandungan cat ini umumnya terdiri dari pelarut atau pengencer zat seperti minyak tanah atau bensin. Mengutip jurnal berjudul Pemanfaatan Limbah Lumpur WWTP untuk Diolah Kembali Menjadi Cat Plamur oleh Dodit Ardiatama, dkk., komponen cat minyak juga biasanya terdiri dari binder (resin), pigmen, solvent dan additive.
Ada juga pelarut-pelarut lain yang mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya seperti xylen atau thiner, benzena atau toluen dan senyawa kimia aromatik lainnya. Selain itu, senyawa lain seperti formaldehyd, acrolein, dan croton aldehyde juga terkandung dalam jenis cat ini.
Zat-zat tersebut tentu berbahaya bagi kesehatan kulit seseorang. Terlebih jika dioleskan dalama waktu yang cukup lama. Beberapa senyawa dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata.
Melansir I am Art, kulit yang terpapar pelarut dalam cat minyak seperti thiner dan benzena bisa mengalami kerusakan parah. Pori-pori kulit akan tertutup dan ini bisa berdampak serius pada kondisi kesehatan lainnya.
Lebih lanjut, paparan cat pada kulit dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan kanker. Ini bisa terjadi dalam jangka waktu 5-10 tahun.
Sementara itu, efek jangka pendek yang akan dirasakan yakni kulit gatal-gatal, nyeri, perih dan pusing. Jika masuk ke mulut, baik secara sengaja atau tidak, bisa menyebabkan kematian secara cepat.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu manusia silver?

Apa itu manusia silver?
Manusia silver adalah sebutan untuk orang-orang yang berpenampilan nyentrik dengan lumuran cat silver di tubuhnya. Mereka biasa ditemukan mengamen di jalanan, lampu merah, dan tempat umum dengan membawa kardus sumbangan.
Apa kandungan cat yang digunakan manusia silver?

Apa kandungan cat yang digunakan manusia silver?
Cat yang biasa digunakan manusia silver ialah cat minyak. Kandungan cat minyak, umumnya terdiri dari pelarut atau pengencer zat seperti minyak tanah atau bensin.
Apa bahaya dari cat yang digunakan manusia silver?

Apa bahaya dari cat yang digunakan manusia silver?
Dalam jangka pendek dapat menimbulkan efek ringan seperti gatal-gatal, iritasi, dan pusing. Namun dalam jangka panjang, bisa menimbulkan kanker.
