Konten dari Pengguna

Fenomena Suhu Bediding Sampai Kapan? Ini Kata Dosen IPB

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menonton film di tengah cuaca dingin  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menonton film di tengah cuaca dingin Foto: Shutter Stock

Dalam beberapa pekan terakhir, banyak masyarakat mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena bediding, yaitu penurunan suhu yang umum terjadi selama musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Mengutip laman BMKG, istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan hawa dingin yang menusuk, khususnya pada dini hari. Fenomena ini termasuk proses alamiah yang muncul akibat pelepasan panas dari permukaan bumi menuju atmosfer pada malam hari.

Saat langit cerah dan tutupan awan sangat minim, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke luar angkasa. Akibatnya, suhu udara menurun cukup signifikan sehingga udara terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya.

Lantas, sampai kapan fenomena bediding akan berlangsung? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Fenomena Suhu Bediding Sampai Kapan?

Ilustrasi Suhu Bediding. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr. Givo Alsepan, mengatakan fenomena bediding diperkirakan masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau, yakni pada akhir Juli hingga Agustus 2026.

Bahkan, di sejumlah wilayah, kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga awal September 2026, bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer. Menurut Givo, durasi berlangsungnya fenomena bediding dapat berbeda di setiap daerah karena dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan atmosfer setempat.

"Fenomena bediding diperkirakan masih berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer," ujar Givo, dikutip dari laman IPB University.

Penyebab Fenomena Suhu Bediding Menurut BMKG

Ilustrasi Malam Hari. Foto: Unsplash

BMKG menjelaskan bahwa fenomena bediding terjadi akibat beberapa faktor yang saling berkaitan. Dikutip dari laman BMKG, berikut penyebab fenomena suhu dingin saat musim kemarau:

1. Angin Monsun Australia Membawa Udara Dingin

Fenomena bediding umumnya disebabkan oleh bertiupnya angin monsun Australia atau monsun timur. Pada pertengahan tahun, Australia mengalami musim dingin, sehingga tekanan udara di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi dan mendorong pergerakan massa udara menuju Asia melalui Indonesia.

Massa udara yang bergerak dari Australia tersebut memiliki karakteristik lebih dingin dan sangat kering. Sebelum mencapai Indonesia, massa udara ini terlebih dahulu melintasi Samudra Hindia yang suhu permukaan lautnya relatif rendah.

Setelah itu, udara dingin memasuki wilayah Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sehingga suhu udara di wilayah-wilayah tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan periode lainnya.

2. Langit Cerah Mempercepat Pendinginan Permukaan Bumi

BMKG menyebutkan bahwa minimnya tutupan awan menjadi salah satu faktor penting yang memicu terjadinya fenomena bediding. Pada musim hujan, awan berperan layaknya selimut alami yang membantu menahan panas agar tetap berada di dekat permukaan bumi.

Sebaliknya, saat musim kemarau langit cenderung cerah (clear sky). Kondisi tersebut menyebabkan beberapa hal berikut:

  • Panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer melalui proses radiational cooling atau pendinginan radiatif.

  • Tidak adanya awan dan minimnya uap air membuat panas tidak tertahan di dekat permukaan bumi.

  • Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat sehingga udara pada malam hingga dini hari terasa lebih dingin.

Baca Juga: Jakarta 2-3 Minggu Tanpa Hujan, BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca

(ANB)