Fungsi Pantun beserta Ciri-Ciri dan Jenisnya yang Dapat Dikenali

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sastra atau kesusastraan merupakan jenis tulisan yang memiliki arti dan keindahan tertentu bagi orang yang membaca atau mendengarkannya. Bentuk dan jenis karya sastra sangat beragam, salah satunya adalah pantun.
Merujuk buku Kumpulan Majas, Pantun, dan Peribahasa plus Kesusastraan Indonesia karya Ernawati Waridah, kata "pantun" berasal dari akar kata "tun" dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) atau "tuntun" yang berarti mengatur atau menyusun.
Dalam buku Think Smart Bahasa Indonesia susunan Ismail Kusmayadi, dalam kehidupan masyarakat lama, terutama masyarakat Melayu, fungsi pantun sangat penting. Saat itu, kemampuan berpantun dijadikan sebagai tolok ukur kepandaian seseorang.
Orang yang pandai menggunakan bahasa kiasan yang umumnya terangkum dalam pantun dapat disebut sebagai orang pandai. Selain menjadi tolok ukur kepandaian seseorang, pantun juga mempunyai beberapa fungsi lainnya. Apa saja?
Fungsi Pantun
Dihimpun dari buku Kumpulan Sastra Indonesia tulisan Mustofa Sadikin, berikut beberapa fungsi pantun yang menarik untuk diketahui.
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir.
Sebagai sarana untuk mendidik, wadah untuk aktivitas kependidikan.
Pantun dapat melatih seseorang tentang makna kata sebelum berujar.
Pantun merupakan salah satu bentuk ungkapan yang berfungsi sebagai sarana hiburan.
Pantun dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial.
Pantun mampu menjadi penjaga dan media kebudayaan untuk memperkenalkan serta memastikan nilai-nilai masyarakat tetap ada.
Ciri-ciri Pantun
Masih dari sumber yang sama, dalam membuat karya sastra pantun terdapat aturan dan syarat yang perlu dipatuhi, yaitu:
Pantun memiliki bait yang setiap baitnya terdiri dari 4 baris.
Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
Setiap baris terdiri dari 4-6 kata.
Setiap bait pantun terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Pantun bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a.
Jenis Pantun
Berdasarkan maksud, isi, dan temanya, pantun terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja/dewasa, dan pantun orangtua. Masing-masing kelompok menunjukkan ciri khas tema sesuai dengan perilakunya.
1. Pantun Anak-anak
Pantun anak-anak menggambarkan dunia anak-anak yang biasanya dipenuhi rasa senang dan sedih. Karenanya, jenis pantun anak dibagi dua macam, yaitu pantun bersuka cita dan pantun berduka cita. Contoh pantun anak-anak:
Pantun bersuka cita
Ayam jantan terbang lepas
Hinggap di ranting pohon tumbang
Melihat ibu pulang lekas
Hatiku senang bukan kepalang
Pantun berduka cita
Tebu dipotong dibagi-bagi
Anak nelayan menyulam jala
Melihat ayah dan ibu pergi
Hati perih tidak terkira
2. Pantun Remaja
Pantun remaja atau dewasa menggambarkan kehidupan remaja atau dewasa. Tema cinta sangat dominan dalam pantun remaja/dewasa. Pantun remaja atau dewasa dibagi beberapa jenis, yaitu pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan/percintaan, dan pantun perceraian/ perpisahan. Contoh puisi remaja:
Pantun perkenalan
Buah delima di atas atap
Jambu dipetik dimakan tamu
Sudahlah lama saya berharap
Baru sekarang bisa bertemu
Pantun berkasih-kasihan/percintaan
Nagasari cempaka biru
Bunga rampai di dalam puan
Rasanya hati sangatlah rindu
Bilakan sampai kepada tuan
Pantun perceraian/ perpisahan
Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
3. Pantun Orangtua
Pantun orangtua biasanya berisikan tema pendidikan dan ajaran agama. Pantun jenis ini terbagi menjadi beberapa macam, yaitu pantun nasihat, pantun adat, pantun agama, pantun budi pekerti, pantun kepahlawanan, pantun kias, dan pantun peribahasa. Contoh puisi pantun orangtua:
Pantun nasihat
Padi segenggam ditumbuk luluh
Tidak boleh ditanak lagi
Kehendak Allah juga yang sungguh
Tidak boleh sekehendak hati
Pantun kepahlawanan
Sungguh indah bunga merah
Bunga disiram pagi hari
Jika jasadku rebah ke tanah
Rela aku dikubur di sini
Pantun kias
Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
Pantun peribahasa
Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Pantun budi pekerti
Bunga cina di atas batu
Daunnya lepas ke dalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang
Pantun agama
Jarak nan tumbuh tepi serambi
Pohon kerekot bunganya sama
Itulah perbuatan yang dibenci
Nabi Petuah diikut segala ulama.
(ANS)
