Konten dari Pengguna

Gancaran Tembang Pangkur: Pengertian, Watak, dan Contohnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi Gancaran Tembang Pangkur. Foto: Adobe Stock
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Gancaran Tembang Pangkur. Foto: Adobe Stock

Dalam dunia sastra, gancaran dikategorikan sebagai prosa atau karangan bebas yang tidak terikat oleh aturan. Gancaran bisa ditulis dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa. Salah satu gancaran dalam bahasa Jawa yang umum dikenal masyarakat adalah tembang pangkur.

Mengutip buku Filsafat Ku oleh Wafa aldawamy, tembang pangkur biasanya bercerita tentang kehidupan seseorang yang kini telah mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tembang ini juga menggambarkan manusia yang sudah tua dengan kondisi fisik yang lemah.

Oleh karena itu, watak tembang pangkur banyak digunakan pada karya sastra yang bertema nasihat, pertemanan, atau cinta. Nasihat yang kerap dipakai dalam tembang pangkur adalah menjauhi hawa nafsu serta amarah agar mendapatkan kehidupan yang baik.

Berikut beberapa contoh gancaran tembang pangkur seperti yang dikutip dari buku Serat Kandha Suluk Tembang Wayang oleh Bram Palgunadi.

Contoh Gancaran Tembang Pangkur

Illustrasi Gancaran Tembang Pangkur. Foto: Adobe Stock

Contoh 1

Mingkar-mingkuring ukara

Akarana karenan mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining ilmu luhung

Kang tumrap ing tanah Jawa

Agama ageming aji.

(KGPA. Mangkunagara IV, Wedhatama)

Artinya:

Membolak-balikkan kata

Karena hendak mendidik anak

Tersirat dalam indahnya tembang

Dihias penuh warna

Agar menjiwai hakekat ilmu luhur

Yang ada di tanah Jawa

Agama "pakaian" diri

Contoh 2

Wewolu sariranira,

Yekti nora kena sira ngoncati,

Salah siji sking wolu,

Cacad karatonira,

Yen tinggala salah siji saking wolu,

Kang dhihin Bathara Endra,

Bathara Surya ping kalih.

(Rangga Warsita, Serat Rama Jarwa)

Artinya:

Kedelapan salira dia,

Sesungguhnya tidak boleh dilompati,

Salah satu dari delapan,

Cacat keratonnya,

Kalau meninggalkan salah satu dari delapan,

Yang pertama Bathara Endra,

Yang kedua Bathara Surya.

Illustrasi Gancaran Tembang Pangkur. Foto: Adobe Stock

Contoh 3

Tan samar pamoring suksma,

Sinukmaya winahya ing asepi,

Sinimpen telenging kalbu,

Pambukaning marana,

Tarten saking liyip-layaping ngaluyup,

Pindha pesating supena,

Sumusuping rahsa jati.

(Mangkunegara IV, Wedhatama)

Artinya:

Tidak ragu pamor dari suksma,

Menerima wahyu di tempat yang sepi,

Disimpan di dalam kalbu,

Pembukaannya dengan kedatangan,

Dari mata setengah terpejam,

Seperti kecepatan mimpi,

Masuknya rasa sejati.

Contoh 4

Mingkar-mingkuring angkara,

Akarana karenan mardi siwi,

Sinawung resmining kidung,

Sinuba sinukarta,

Mrih kertarto, pakartining ngelmu luhung,

Kang tumrap neng tanah Jawi,

Agama-ageming aji.

(KGPA. Mangkunagara IV, Wedhatama)

Artinya:

Disingkur oleh angkara,

Oleh karena puas dengan anak didik,

Dihiasi nyanyian yang resmi,

Disambut diselamatkan,

Agar selamat, budi pekerti ilmu luhur,

Bagi orang tanah Jawa,

Agama adalah pedomannya.

Contoh 5

Bayu ingkang kaping tiga,

Kuwera kang sekawanipun nenggih,

Baruna kalimanipun,

Yama Candra lan Brama,

Jangkep wolu den pasthi mangka ing prabu,

Anggenira ngastha brata, sayekti ing narapati.

(Rangga Warsita, Serat Rama Jarwa)

Artinya:

Yang ketiga adalah Bayu,

Yang keempat adalah Kuwera,

Yang kelima adalah Baruna,

Yang keenam Yama ketujuh Candra kedelapan Brama,

Genap delapan itu pasti sang Prabu,

Yang dilakukan tapa brata, benar-benar menjadi seorang raja.

(NDA)