Konten dari Pengguna

Gunung Semeru Berada di Mana? Ini Informasi dan Update Statusnya usai Erupsi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pria mengamati muntahan material vulkanik saat terjadi letusan Gunung Semeru seperti yang terlihat dari desa Sumbermujur di Lumajang, provinsi Jawa Timur, Rabu (19/11/2025). Foto: Agus Harianto/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria mengamati muntahan material vulkanik saat terjadi letusan Gunung Semeru seperti yang terlihat dari desa Sumbermujur di Lumajang, provinsi Jawa Timur, Rabu (19/11/2025). Foto: Agus Harianto/AFP

Gunung api tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru, mengalami erupsi setinggi 8,5 km dari puncaknya pada Rabu (19/11). Erupsi ini menghasilkan gumpalan awan panas guguran, yakni campuran material vulkanik yang suhunya berkisar 800-900 derajat Celcius.

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), jarak luncur awan panas saat erupsi hampir mencapai 13 km. Alirannya mengarah ke tenggara dan selatan gunung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ada tiga desa di dua kecamatan yang terdampak erupsi Semeru. Pertanyannya, Gunung Semeru berada di mana? Simak penjelasan berikut ini untuk mengetahui letak persis gunung api tersebut.

Gunung Semeru Berada di Mana?

Gunung Semeru memuntahkan material vulkanik saat erupsi di Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Rabu (19/11/2025). Foto: AFARTV YOUTUBE CHANNEL via REUTERS

Dikutip dari buku Seismik Vulkanologi (2016) oleh Sukir Maryanto, Gunung Semeru secara geografis terletak di 08°06'30" LS dan 112°55' BT, yang wilayahnya mencakup di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

Gunung dengan puncak tertingginya yang bernama Mahameru ini masuk secara administratif dalam dua wilayah itu. Gunung Semeru juga termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Ketinggian Gunung Semeru mencapai 3.676 meter dari permukaan laut. Hal ini menjadikan Semeru sebagai gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani, serta tertinggi di Pulau Jawa.

Sejarah letusan Gunung Semeru tercatat sejak tahun 1818. Sejak saat itu, gunung api ini telah mengalami beberapa kali perubahan fase erupsi. Sebelum tahun 1967, erupsi Gunung Semeru didominasi oleh tipe vulkanian (eksplosif).

Pada tahun 1967 hingga pertengahan 2009, erupsinya didominasi tipe strombolian (letusan lemah). Lalu, sejak akhir tahun 2009, fase erupsi berubah menjadi embusan bertekanan rendah dan terjadi pembentukan kubah lava baru.

Fenomena tersebut disertai dengan keluarnya gumpalan asap putih di kawasan puncak. Sedangkan dalam beberapa tahun belakangan, fase erupsi Gunung Semeru bertipe vulkanian dan strombolian.

Update Usai Erupsi Gunung Semeru

Warga melintasi perkampungan yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Laporan sementara BNPB menyatakan terdapat tiga desa di dua kecamatan yang terdampak erupsi Gunung Semeru pada Rabu (19/11). Desa tersebut adalah Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo di kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.

Erupsi ini membuat Badan Geologi menaikkan status Semeru menjadi Level IV atau Awas. BNPB juga menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari, terhitung mulai tanggal 19-26 November 2025.

Selain itu, otoritas PVMBG merekomendasikan beberapa langkah pencegahan dampak yang lebih besar, yakni:

  • Tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.

  • Tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terkena lontaran batu (pijar).

  • Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang hulunya di puncak Gunung Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Baca Juga: Kondisi 178 Pendaki Semeru yang Terjebak di Ranu Kumbolo: Aman, Belum Dievakuasi

(DEL)