Hadits Arbain ke-4: Proses Diciptakannya Manusia di dalam Perut Seorang Ibu

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadits Arbain ke-4 berisi tentang penjelasan dari proses penciptaan manusia yang dimulai dari dalam perut seorang ibu. Seperti diketahaui, Allah telah menetapkan ajal, rezeki, dan lain-lainnya pada saat proses penciptaan manusia.
Diterangkan dalam buku Al Wafi: Syarah Hadits Arbain Imam An-Nawawi oleh Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, bahwa Hadits Arbain Nawawi (الأربعين النووية) adalah kumpulan hadits pilihan yang disusun oleh Imam An Nawawi rahimahullah. Hadits ini berisi tentang berbagai pokok ilmu berdasarkan ajaran agama Islam.
Hadits Arabin Nawawi ini telah dikenal secara luas oleh masyarakat, termasuk orang awam sekalipun. Keterkenalan hadits ini adalah karena memberikan manfaat yang besar bagi umat Muslim. Lalu, seperti apakah isi Hadits Arbani ke-4? Simak jawaban lengkapnya di bawah ini.
Hadits Arbain ke-4
Mengutip dari Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah oleh Ustadz Anas Burhanuddin, berikut adalah isi dari Hadits Arbain ke-4 tentang proses terbentuknya manusia, yaitu:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, قَلَ : حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ : اِنَّ أَحَدُكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلك, ثُمَّ يُرْسَلُ اِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ, وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ. فَوَالَّذِي لَا اله غَيْرُهُ, اِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حتّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا اِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حتى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا اِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ الجَنَّةِ فَيَدخُلُهَا
Artinya: “Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiq al-Mashduq (yang benar lagi dibenarkan perkataannya):
‘Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk sperma, kemudian menjadi segumpal darah seperti (masa) itu, kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula.
Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan dengan empat kalimat: menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia.
Demi Dzat yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu hasta, tapi catatan (takdir) mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga akhirnya dia masuk neraka.
Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta, tapi catatan (takdir) mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga sehingga akhirnya dia masuk surga’.”
Kandungan Hadits Arbain ke-4
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam buku Syarah Hadits Arba'in An-Nawawi, bahwa ada beberapa isi kandungan dari Hadits Arbain ke-4 tersebut, yaitu:
Penjelasan tentang proses penciptaan manusia di dalam perut ibunya terjadi dalam empat periodisasi, yaitu: Pertama, Nuthfah (dalam bentuk sperma), selama empat puluh hari; Kedua, ‘Alaqah (gumpalan darah), selama empat puluh hari; Ketiga, Mudghoh (gumpalan daging) selama 40 hari; Keempat, yaitu setelah ditiupnya ruh ke dalam tubuh janin. Janin mengalami proses perkembangan dalam perut ibunya dalam tahap perkembangan seperti ini.
Sebelum berumur empat bulan, janin belum dapat dihukumi sebagai manusia yang hidup. Atas dasar ini, jika bayi itu keluar sebelum kandungan itu genap berumur empat bulan, maka ia tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak pula disholatkan, karena ia belum dapat disebut seorang manusia.
Setelah kandungan berusia empat bulan, ditiupkan ruh padanya. Maka (setelah itu), ia telah positif dihukumi sebagai manusia yang hidup. Jadi, jika setelah itu kandungan tersebut keluar, maka ia wajib dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Seperti halnya manusia biasa.
Adanya malaikat yang diberi tugas untuk mengurusi rahim (kandungan). Berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Maka diutuslah malaikat kepadanya.” Yakni malaikat yang diberi tugas untuk mengurusi rahim.
Keadaan manusia telah ditakdirkan ketika ia berada di dalam perut ibunya, yakni telah ditakdirkan rizqinya, amalannya, ajalnya, dan apakah dia celaka ataukah bahagia.
Penjelasan tentang hikmah Allah, bahwa segala sesuatu di sisinya telah ditetapkan dengan batas waktu tertentu dengan takdir yang tidak dapat didahulukan dan diakhirkan.
Setiap orang wajib merasa takut dan cemas karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan, “Bahwa seseorang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga hanya sehasta, lalu ia didahului oleh kitab (takdir), sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga ia memasukinya.”
Seorang manusia tidak sepantasnya berputus asa, karena bisa jadi seseorang melakukan kemaksiatan dalam waktu yang lama kemudian Allah memberikan hidayah kepadanya, sehingga ia bisa mendapatkan petunjuk di akhir hayatnya.
(NDA)
