Hadits Malu Sebagian dari Iman untuk Dijadikan Pedoman Umat Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ajaran Islam, rasa malu termasuk ke dalam sikap yang menjadi bagian dari iman. Malu merupakan salah satu akhlak mulia yang dapat menghindarkan seseorang dari hal-hal buruk.
Orang yang tidak memiliki perasaan malu dalam hidup berisiko melakukan perbuatan tercela karena mengikuti hawa nafsunya. Dalam kajian aqidah akhlak, sifat malu terbagi menjadi tiga macam, yaitu malu kepada diri sendiri, malu kepada sesama manusia, dan malu kepada Allah SWT.
Namun, menurut buku Terjemah Kitab Bulughul Maram Hadist Fikih dan Akhlak karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, sifat malu terbagi menjadi dua macam. Pertama, sifat malu bawaan yang merupakan akhlak mulia karunia Allah SWT yang dapat mencegah seseorang melakukan perbuatan buruk dan hina. Kedua, sifat malu yang didapatkan dari proses ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) yang merupakan bagian keimanan tertinggi.
Dapat disimpulkan bahwa memiliki rasa malu mengandung banyak keutamaan. Keutamaan tersebut tercantum dalam hadits Rasulullah SAW yang bisa dijadikan sebagai pedoman bagi umat Islam.
Hadits Malu Sebagian dari Iman
Malu merupakan salah satu sifat yang dicintai Allah SWT karena dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk berlaku baik dan meninggalkan perbuatan munkar.
Berikut beberapa hadits tentang rasa malu yang dikutip dari buku Adabul Mufrad Kumpulan Hadits-Hadits Akhlak karangan Imam Al-Bukhari dan Terjemah Kitab Bulughul Maram Hadist Fikih dan Akhlak karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani.
Malu sebagian dari iman
Isma’il berkata, telah mengabarkan kepadaku Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW berjumpa dengan seseorang yang menasehati saudaranya agar tidak malu, lalu beliau berkata, “Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman.” (HR. Al Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)
Malu sebagai cabang iman
“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘Lailaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah membuang gangguan di jalan. Adapun sifat malu termasuk di antara salah satu cabang iman.” (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)
Mendapatkan pahala dari sifat malu
“Tidaklah sifat malu itu kecuali (Allah) membalasnya pahala yang setimpal dan tidaklah perbuatan keji itu kecuali akan menghinakan pelakunya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Albani)
Sifat malu membawa kebaikan
“Sifat malu tidak membawa selain kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(DND)
