Konten dari Pengguna

Hadits Menyebarkan Salam beserta Adabnya Sesuai Sunah Rasulullah

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadits menyebarkan salam. Foto: dok Expatica
zoom-in-whitePerbesar
Hadits menyebarkan salam. Foto: dok Expatica

Saat seseorang mengucapkan salam, ia sama seperti mendoakan keselamatan orang lain. Oleh karenanya, menyebarkan salam merupakan sunah yang diajarkan Rasulullah agar seluruh umat Muslim saling mengasihi, bersaudara, dan saling membantu.

Salam yang dianjurkan bila bertemu dengan sesama Muslim bukan hanya kata Assalamua’alaikum, tetapi di tambah dengan wa rahmatullahi wabarakatuh. Kalimat itu mengandung makna meminta keselamatan dan kebaikan rahmat dari Allah yang Maha Kuasa.

Lafadz tersebut merupakan perintah Allah kepada Nabi Adam as untuk mengucapkan salam kepada malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Dikutip dari buku Assalamu 'alaikum Tebarkan Salam Damaikan Alam oleh Mahmud asy-Syafrowi, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah menciptakan Adam dalam bentuk setinggi enam puluh hasta. Saat Allah menciptakannya, Dia berfirman: Pergilah dan ucapkan salam kepada kelompok malaikat, lalu dengarkan apa jawaban mereka. Jawab tersebut menjadi ucapan salammu dan keturunanmu. Adam berkata: Assalamualaikum.

Para malaikat menjawab: Assalamualaika warahmatullahi. Kemudian mereka menambahkan: Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap orang yang masuk surga dalam bentuk Adam. Kemudian manusia terus menerus berkurang bentuknya sampai sekarang.” (H.R Bukhari No. 5759)

Salam adalah faktor utama yang mendorong hati untuk bersikap lemah lembut dan merupakan kunci untuk menarik simpati. Sedangkan, menyebarkan salam merupakan salah satu upaya untuk memperkuat hubungan kasih sayang di antara kaum Muslimin sekaligus sebagai syiar umat Muslim kepada umat agama lain.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits menyebarkan salam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dikutip dari buku Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi Abdul Wahab Al-Ahmad, Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman sebelum saling menyayangi. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang kalau kalian kerjakan niscaya kalian akan saling sayang menyayangi? Yaitu sebar luaskan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Salam mengatakan Rasulullah bersabda, “Wahai manusia tebarkan salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Adab Menyebarkan Salam

Ilustrasi adab menyebarkan salam. Foto: dok Cudoo.

Islam adalah agama yang rahmatalil 'alamin, segala aspek kehidupan telah diatur dalam Alquran dan sunah nabi tak terkecuali dalam menyebarkan salam. Berikut adalah adab yang harus diperhatikan dalam menyebarkan salam yang dikutip dari jurnal Afsus Salaam karya Abu Izzat Ramadhan:

1. Urutan salam

Dijelaskan dalam hadits Bukhari, Rasulullah bersabda, “Hendaklah yang muda kepada yang lebih tua.” Sedangkan dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Muslim dan Bukhari)

2. Mendahului salam

Terlepas dari urutan dalam memberi salam, Rasulullah justru mengajarkan untuk mendahului dalam memberi salam. Sebab, orang yang mendahului salam terlebih dahulu adalah orang yang lebih mulia, sebagaimana sabdanya:

“Seutama-utama manusia bagi Allah adalah yang mendahului salam.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

3. Menjawab dengan setara atau lebih

Sebagaimana dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 86, menjawab salam minimal setara dengan ucapan salamnya, dan lebih utama menjawabnya dengan sempurna. Adapun salam yang disyariatkan dalam surat An Nisa ayat 86 adalah sebagai berikut:

  • Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum" maka jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam", jawaban lebih adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaah", dan jawaban lengkapnya adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".

  • Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah" maka jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaah", dan jawaban lengkapnya adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".

  • Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh" maka jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".

4. Dengan berjabat tangan

Ilustrasi berjabat tangan. Foto: Dok. stock.adobe.com

Selain mengucapkan salam, akhlak karimah bagi seorang Muslim ketika bertemu dengan saudaranya adalah menjabat tangan dengan hangat. Selain memiliki nilai kehangatan dan persahabatan, jabat tangan juga akan menghapus dosa di antara kedua Muslim yang melakukannya.

Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah, “Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosa keduanya sampai mereka melepaskan jabatan tangannya." (HR. Abu Daud)

5. Berwajah manis

Maksudnya, umat Muslim dianjurkan untuk menampilkan wajah yang menyenangkan disertai dengan senyum yang mengembang. Sebab, gaya seperti itulah yang diharapkan Rasulullah ketika seorang Muslim bertemu dengan saudaranya.

Rasulullah bersabda: “Jangan kalian meremehkan sedikitpun tentang kebaikan, meskipun hanya wajah yang manis saat bertemu dengan saudaramu.” (HR. Bukhari)

6. Tidak memalingkan wajah

Nilai ucapan salam dan jabat tangan menjadi hampa dan hilang ketika seseorang melakukannya sambil memalingkan wajah. Allah telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Luqman ayat 18 yang berbunyi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

7. Tidak membuat keributan

Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim dari Al Miqdad ra. Miqdad adalah seseorang yang menyediakan susu untuk Rasulullah. Saat itu, Rasulullah datang di waktu malam, lalu beliau memberi salam dengan perlahan sehingga tidak membangunkan orang yang tidur. Namun suaranya cukup di dengar oleh mereka yang terjaga. (HR. Muslim)

8. Tidak mengucapkan alaikassalam

Ucapan ini dilarang oleh Rasulullah karena kata tersebut adalah salam untuk orang yang telah meninggal. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Daud dan At Tirmidzi berikut:

Ketika Abu Juray Al Hujaimi datang kepada Rasulullah sambil mengucapkan, “Alaikassalam ya Rasulullah,” Rasulullah bersabda, “Jangan berkata Alaikassalaam karena ‘alaikassalaam itu merupakan salam bagi orang mati.”

(IPT)