News
·
8 Januari 2021 18:25

Hadits Qudsi: Istilah Lain dan Perbedaannya dengan Alquran

Konten ini diproduksi oleh Berita Hari Ini
Hadits Qudsi: Istilah Lain dan Perbedaannya dengan Alquran (322733)
searchPerbesar
Hadits qudsi. Foto: Unsplash
Dalam agama Islam, istilah hadits menjadi sesuatu yang tidak asing untuk didengar. Hadits merupakan sumber yang berisikan ajaran agama Islam ke dua setelah Alquran. Hadits termasuk ke dalam dalil naqli yang sudah pasti kebenarannya.
ADVERTISEMENT
Hadits menurut bahasa adalah sesuatu yang baru, menunjukkan sesuatu yang dekat atau waktu yang singkat. Sedangkan menurut istilah syara’, hadits merupakan hal-hal yang datang dari Rasulullah SAW, baik itu ucapan, perbuatan, atau pengakuan (taqrir).
Salah satu bentuk hadits adalah hadits qudsi, dimana yang dimaksud adalah riwayat oleh Rasulullah SAW dianggap sebagai firman Allah SWT, yang dikutip namun dengan lafal dari beliau. Biasanya awalannya berbunyi “Rasulullah SAW bersabda" atau “Allah SWT berfirman”.
Hadits qudsi terdiri dari dua kata yaitu hadits dan qudsi. Hadits merupakan segala yang ada pada diri Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau karakter. Sedangkan qudsi diambil dari kata qudus, yang artinya suci.
Al-Jurjani mengatakan,
الحديث القدسي هو من حيث المعنى من عند الله تعالى ومن حيث اللفظ من رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو ما أخبر الله تعالى به نبيه بإلهام أو بالمنام فأخبر عليه السلام عن ذلك المعنى بعبارة نفسه فالقرآن مفضل عليه لأن لفظه منزل أيضا
ADVERTISEMENT
Hadis qudsi adalah hadis yang secara makna datang dari Allah, sementara redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga hadis Qudsi adalah berita dari Allah kepada Nabi-Nya melalui ilham atau mimpi, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal itu dengan ungkapan beliau sendiri. Untuk itu, al-Quran lebih utama dibanding hadis qudsi, karena Allah juga menurunkan redaksinya. (at-Ta’rifat, hlm. 133)
Hadits Qudsi: Istilah Lain dan Perbedaannya dengan Alquran (322734)
searchPerbesar
Hadits qudsi. Foto: Unsplash

Istilah Lain Hadits Qudsi

Sebagian ulama menyebut hadits qudsi dengan istilah lain seperti hadits ilahi atau hadis rabbani yang memiliki pengertian serupa yaitu hadis yang dinisbahkan kepada Allah.
Selain itu ada juga ulama yang menggunakan istilah hadis ilahi yaitu Syaikhul Islam dan Hafidz Ibnu Hajar. Dalam salah satu pernyataannya, al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
ADVERTISEMENT
الأحاديث الإلهية: وهي تحتمل أن يكون المصطفى صلى الله عليه وسلم أخذها عن الله تعالى بلا واسطة أو بواسطة
Hadis Ilahi ada kemungkinan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari Allah tanpa perantara atau melalui perantara. (Faidhul Qodir, 4/468).
Sementara itu, ada pula ulama yang menggunakan istilah hadis Rabbani salah satunya adalah Jalaluddin al-Mahalli. Dalam pernyataannya ia menyebutkan,
الْأَحَادِيثَ الرَّبَّانِيَّةَ كَحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Hadis Rabbani itu seperti hadis yang disebutkan dalam dua kitab shahih: “Saya sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. (Hasyiyah al-Atthar ’ala Syarh al-Mahalli).
Hadits Qudsi: Istilah Lain dan Perbedaannya dengan Alquran (322735)
searchPerbesar
Hadits qudsi. Foto: Unsplash

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Alquran

Alquran sebagai pedoman hidup umat islam memiliki ciri sebagai berikut:
  1. Alquran turun sebagai wahyu dibawa oleh malaikat Jibril ke Rasulullah SAW
  2. Bersifat qath’i tsubut (pasti keabsahannya), karena semuanya diriwayatkan kaum muslimin turun-temurun secara mutawatir.
  3. Membacanya mendapatkan 10 pahala setiap hurufnya.
  4. Teks dan maknanya merupakan mukjizat.
  5. Bersifat sakral, sehingga orang yang mengingkari satu huruf saja statusnya kafir.
  6. Tidak boleh disampaikan berdasarkan maknanya tanpa teks aslinya persis seperti yang Allah firmankan.
  7. Menjadi mukjizat yang Allah gunakan untuk menantang manusia, terutama masyarakat arab.
ADVERTISEMENT
Sedangkan perbedaan hadits qudsi dengan Alquran adalah sebagai berikut:
  1. Tidak harus melalui malaikat Jibril. Bisa datang dalam bentuk ilham atau mimpi.
  2. Tidak ada jaminan keabsahannya. Karena itu, ada hadits qudsi yang shahih, dhaif, dan bahkan ada yang palsu.
  3. Semata membaca tidak bernilai pahala. Kecuali jika diniati untuk mempelajari, sehinga bernilai ibadah pada kegiatan mempelajarinya.
  4. Teks dan maknanya bukan mukjizat. Sehingga bisa saja seseorang membuat hadis qudsi palsu.
  5. Tidak sakral, sehingga mengikuti kajian hadis pada umumnya.
  6. Hadits qudsi boleh disampaikan secara pemahaman
  7. Tidak digunakan sebagai tantangan kepada makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya.
(HDP)