Hari Raya Siwaratri, Perayaan dan Maknanya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam agama Hindu ada beberapa perayaan hari suci salah satunya adalah Hari Raya Siwaratri. Hari Raya Siwaratri umumnya dirayakan setiap Purwaning Tilem sesih kepitu. Siwaratri mempunyai makna malam perenungan dosa.
Nah untuk tahun ini, Hari Raya Siwaratri jatuh pada Kamis (23/1). Tapi apa pengertian dan makna dari perayaan Hari Raya Siwaratri. Serta bagi umat Hindu, bagaimana tata cara pelaksanaannya?
Pengertian dan Makna Siwaratri
Siwaratri diuraikan terdiri dari 2 kata, yaitu Siwa dan Ratri. Siwa berasal dari bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan.
Siwa memiliki sebagai sebuah gelar atau nama kehormatan untuk salah satu manifestasi Tuhan yang diberi nama atau gelar kehormatan Dewa Siwa, dalam fungsi beliau sebagai pemerelina untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan untuk kebahagian.
Sedangkan Ratri adalah malam dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri dapat diartikan sebagai malam pemerilina atau pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang.
Tata Cara Pelaksaan Siwaratri
Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, terlebih dulu melakukan persembahyangan.
Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara, dapat dilaksanakan pagi hari dan dilakukan selama 12 jam tepatnya dari jam 06.00 – 18.00.
Majagra, yakni tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam, dari jam 06.00 – 18.00 hingga keesokan harinya.
Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. Puasa dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam, maka diperbolehkan makan dan minum dengan syarat nasinya putih dengan garam dan minum air putih.
Bila semuanya sudah berjalan sesuai kemampuan, diakhiri dengan sembahyang memohon kepada Sang Hyang Siwa supaya diberikan berkah dan ampunan, dan juga dikembalikan menjadi manusia yang suci dan paripurna, juga memohon ditunjukan jalan terang agar terhindar dari perbuatan dosa.
