Hoarding Disorder: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hoarding disorder adalah perilaku gemar menimbun barang yang tidak terpakai. Barang yang ditimbun bisa termasuk surat kabar, majalah, pakaian, serta barang lain yang tidak bernilai uang dan mungkin dianggap sampah oleh kebanyakan orang.
Seseorang yang memiliki gangguan mental seperti ini sulit menyingkirkan barang-barangnya karena menganggap akan berguna di kemudian hari, mengingatkannya pada suatu peristiwa, atau alasan lainnya.
Dijelaskan dalam laman Cleveland Clinic, hoarding disorder dapat berdampak buruk bagi kehidupan si penderita. Kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidupnya dalam banyak hal, misalnya menyebabkan stres, malu dalam kehidupan sosial, juga berdampak pada keluarga dan pekerjaan.
Dalam dunia medis, hoarding disorder diklasifikasikan sebagai bagian dari spektrum obsessive compulsive disorder (OCD) yang ditandai dengan rasa cemas berlebih lantaran memiliki keinginan tinggi untuk menyimpan barang yang sudah tidak dipakai lagi.
Gejala Hoarding Disorder
Hoarding disorder bisa dimulai sejak masa remaja dan kian memburuk seiring bertambahnya usia. Gangguan ini cenderung lebih memengaruhi orang berusia di atas 60 tahun dan orang dengan kondisi kesehatan mental lainnya, terutama gangguan kecemasan dan depresi.
Mengutip Mayo Clinic, menyimpan barang dalam jumlah berlebihan, menumpuk barang secara bertahap di ruang tamu, dan kesulitan membuang barang merupakan gejala hoarding disorder yang kerap muncul selama masa remaja hingga dewasa awal.
Gejala tersebut memburuk seiring dengan pertambahan usia. Bahkan, pada usia paruh baya gejalanya mungkin akan lebih sulit diobati dan malah berkembang menjadi perilaku pribadi.
Hoarding disorder juga dapat dikenali dengan gejala lain, seperti:
Sulit membuang barang, terlepas dari kecil atau besarnya nilai barang tersebut.
Merasa perlu untuk menyimpan barang-barang tersebut dan merasa kesal dengan pemikiran untuk membuangnya.
Menimbun barang di suatu ruangan hingga tempat itu tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.
Memiliki kecenderungan keragu-raguan, perfeksionisme, penghindaran, penundaan, serta masalah dengan perencanaan dan pengorganisasian.
Penyebab Hoarding Disorder
Dalam banyak kasus, peristiwa traumatis seperti perceraian atau kematian orang yang dicintai sering dikaitkan dengan timbulnya hoarding disorder. Namun, penyebab hoarding disorder sejatinya belum diketahui pasti.
Meski begitu, mengutip National Health Service, ada beberapa masalah kesehatan mental yang terkait dengan hoarding disorder, di antaranya:
Depresi berat.
Gangguan psikotik seperti skizofrenia.
OCD.
Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).
Obsessive-compulsive personality disorder (OCPD)
Adapun orang yang lebih rentan terkena hoarding disorder antara lain:
Orang yang hidup sendiri.
Belum menikah.
Memiliki masa kanak-kanak yang kurang menyenangkan.
Dibesarkan di rumah yang berantakan.
Tidak pernah belajar memprioritaskan dan menyortir barang.
Cara Mengobati Hoarding Disorder
Bukan hal yang mudah untuk mengobati hoarding disorder dan memastikan penderitanya pulih 100%. Namun, ada beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejalanya. Salah satunya cognitive behavioural therapy (CBT).
Cognitive behavioural therapy atau terapi perilaku kognitif adalah jenis terapi yang bertujuan untuk membantu pasien mengelola masalahnya dengan mengubah cara dia berpikir (kognitif) dan bertindak (perilaku).
Pada terapi ini, terapis akan membantu pasien untuk memahami apa yang membuatnya sulit membuang barang. Tak hanya itu, pasien juga akan diajarkan untuk membereskan kekacauan yang ditimbulkan akibat kondisi mentalnya tersebut. Misalnya membereskan kamar agar terlihat lebih rapi.
Cognitive behavioural therapy tidak langsung memulihkan kondisi mental pengidap hoarding disorder secara menyeluruh. Dibutuhkan motivasi, komitmen, kesabaran, dan proses yang tidak sebentar untuk mencapai hasil yang maksimal.
Setelah menjalani terapi ini, penderita hoarding disorder diharapkan memiliki keterampilan organisasi lebih baik. Secara perlahan, mereka juga mampu mengambil keputusan untuk membuang barangnya sehingga tidak menumpuk lagi.
(ADS)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan hoarding disorder?

Apa yang dimaksud dengan hoarding disorder?
Hoarding disorder adalah perilaku gemar menimbun barang-barang yang tidak terpakai.
Apakah hoarding disorder termasuk OCD?

Apakah hoarding disorder termasuk OCD?
Dalam medis, hoarding disorder diklasifikasikan sebagai bagian dari spektrum obsessive compulsive disorder (OCD).
Apakah hoarding disorder berbahaya?

Apakah hoarding disorder berbahaya?
Hoarding disorder dapat berdampak buruk bagi kehidupan si penderita.
