Hukum Mengingkari Hadits dan Fungsinya Sebagai Sumber Hukum Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Alquran. Para ulama menjadikannya sebagai rujukan utama dalam menentukan fatwa hukum Islam.
Menurut Al-Ghouri dalam Mu’jam al-Mushthalahat al-Haditsah, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, mulai dari perkataan, perbuatan, taqrir (keputusan), hingga sifat beliau.
Umat Muslim wajib mengimaninya karena konteks hadits bersumber langsung pada Rasulullah SAW. Keabsahan hadits dijelaskan dalam surat Al Hasyr ayat 7, Allah Swt berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS. Al Hasyr: 7)".
Meski banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan hadits, beberapa orang masih enggan untuk mengimaninya. Lalu, apa hukum mengingkari hadits? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan berikut.
Hukum Mengingkari Hadits
Hukum mengingkari hadits adalah haram. Menurut para ulama, perbuatan ini sama saja seperti mengingkari ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Selain itu, sikap mengingkari hadits juga bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda:
“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikan-nya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati Muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka karena doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
Menurut Ustadz Yahya Badrusalam dalam channel YouTube Podcast Dakwah Sunnah, melalui hadits tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyampaikan pesannya kepada umat.
Hadits menempati posisi kedua sumber hukum tertinggi setelah Alquran. Mengutip jurnal berjudul Fungsi Hadits Terhadap Alquran karya Hamdani Khairul Fikri, berikut fungsi-fungsinya yang bisa Anda simak:
Bayan Taqrir (memperjelas isi Alquran): Hadits berfungsi untuk memantapkan dan mengokohkan apa yang telah ditetapkan Alquran sehingga maknanya tidak perlu dipertanyakan lagi.
Bayan Tafsir (menafsirkan isi Alquran): Henjelaskan yang maknanya samar, merinci ayat yang maknanya global, dan mengkhususkan ayat yang maknanya umum.
Takhshish Al-’am (mengkhususkan yang bermakna umum): Mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum. Salah satu contohya adalah dalil tentang keharaman bangkai dan darah.
Bayan Tabdila: Mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya. Contoh sunnah yang dianggap Bayan Tabdil adalah zakat pertanian.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan hadits?

Apa yang dimaksud dengan hadits?
Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, mulai dari perkataan, perbuatan, taqrir (keputusan), hingga sifat beliau.
Apa fungsi hadits sebagai sumber hukum Islam?

Apa fungsi hadits sebagai sumber hukum Islam?
Memperjelas ayat Alquran, menafsirkan isi Alquran, mengkhususkan makna yang umum, dan mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.
Apa hukum mengingkari hadits?

Apa hukum mengingkari hadits?
Haram karena perbuatan ini sama saja seperti mengingkari ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
