Hukum Pujian Setelah Adzan dan Amalan Lainnya yang Disyariatkan

Menyajikan informasi terkini, terbaru dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
17 Mei 2022 13:32
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hukum Pujian Setelah Adzan dan Amalan Lainnya yang Disyariatkan (114015)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi melantunkan pujian setelah adzan. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Pujian setelah adzan adalah salah satu kegiatan yang kerap kali dilakukan oleh masyarakat Indonesia di masjid atau musala. Pujian ini berupa kalimat thayyibah, ayat-ayat istighfar, sholawat, atau bacaan lainnya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
ADVERTISEMENT
Lantunan yang berisikan doa sekaligus harapan itu dibaca secara berulang-ulang setiap tiba waktu shalat. Pujian ini bertujuan mengajak umat Muslim untuk segera berangkat ke masjid guna melaksanakan ibadah shalat secara berjamaah.
Menyadur buku Memahami Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karangan Zaenudin Na’im, dkk, hukum memuji diperbolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan memuji adalah istihsan (perbuatan baik). Seorang sahabat Hassan bin Tsabit juga telah melantunkan syair-syair pujian kenabian di masjid Madinah di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan sya’ir di masjid. Umat menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘Aku melantunkan sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia daripada anda’.
ADVERTISEMENT
Kemudian Umar menoleh ke Abu Hurairah, lalu bertanya, ‘Saya bersumpah untukmu demi Allah, apakah kamu mendengar Rasulullah bersabda: Kabulkan saya, Ya Allah, kokohkan Hassan dengan malaikat Jibril? Abu Huaraurah menjawab, ‘Ya, saya mendengarnya’.”(HR, Al-Bukhari dan Muslim)
Hukum Pujian Setelah Adzan dan Amalan Lainnya yang Disyariatkan (114016)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi amalan setelah adzan. Foto: Unsplash

Amalan-Amalan yang Disyariatkan antara Adzan dan Iqamah

Selain melantunkan syair-syair pujian, terdapat beberapa amalan yang sangat dianjurkan dilakukan di antara adzan dan iqamah dirangkum melalui buku Fiqih Kontroversi jilid 1 karya H. M. Anshary:

1. Berdoa

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Doa yang dibaca antara adzan dan iqamah itu mustajab (dikabulkan oleh Allah SWT). maka berdoalah kamu sekalian.” (HR. Abu Ya’la)
Selain itu dalam hadits lain juga disebutkan, dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamah, maka berdoalah.” (HR. Ahmad)
ADVERTISEMENT
Adapun doa sesudah adzan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadist, dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan 'Allahumma rabba hadzihid da’watit taamati wash shalatil qaa-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhila, wab’atshu maqaamam mahmuudanil lladzi wa ‘adtah’, maka dia akan mendapatkan syafaatku kelak.” (HR. Abu Dawud)
Hukum Pujian Setelah Adzan dan Amalan Lainnya yang Disyariatkan (114017)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi amalan setelah adzan. Foto: Pixabay

2. Shalat Sunnah Rawatib

Disyariatkan juga di sela antara adzan dan iqamah untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib. Shalat ini dilakukan untuk shalat-shalat fardhu yang memiliki sunnah qalbiyah rawatib, yaitu shalat Subuh dan Dzuhur.
Abdullah bin Umar ra berkata, “Aku menghafal sesuatu dari Nabi SAW berupa shalat sunnah sepuluh rakaat yaitu, dua rakaat sebelum shalat Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat Isya di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shalat Shubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
ADVERTISEMENT

3. Berdzikir

Dzikir adalah amalan yang ringan di lisan, namun sangat berat dalam timbangannya. Banyak sekali ayat Alquran atau hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan berdzikir, bahkan Rasulullah SAW senantiasa menggunakan waktunya untuk berdzikir.
Aisayah radhiyaallah hu’anha berkata, “Nabi SAW senantiasa berdzikir dalam setiap waktu dan keadaannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Dengan demikian waktu antara adzan dan iqamah juga dapat digunakan untuk berdzikir. Hanya saja berdzikir itu dilakukan dalam hati masing-masing, tidak boleh dilantunkan dengan suara keras.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran surat Al-Araf ayat 205 yang berbunyi:
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ
Artinya: "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah." (QS. Al-Araf: 205)
ADVERTISEMENT
(IMR)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020