Idola dalam Islam, Bagaimana Hukumnya?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Idola dalam Islam mungkin belum diketahui sebagian umat muslim, terutama hukumnya. Di era modern ini, ada banyak umat Muslim yang mengidolakan lawan jenis dari kalangan artis, atlet, tokoh agama, dan sebagainya.
Seseorang merasa kagum terhadap orang lain karena beberapa alasan, misalnya karena paras yang cantik atau tampan, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, memiliki bakat tertentu, atau prestasi yang gemilang.
Kebanyakan orang mengidolakan orang lain dengan melihat beberapa aspek tersebut, hingga akhirnya membuat mereka terlena dan melupakan makna dari mengagumi seseorang. Lantas, apakah boleh menyukai idola dalam agama Islam?
Hukum Idola dalam Islam
Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, umat muslim harus mengidolakan (menjadikan suri teladan) seseorang tidak hanya melihat sebatas kelebihan fisik atau bakatnya saja, tetapi kebaikan akhlak dan perilakunya.
Umat muslim dianjurkan untuk selektif mengenai idola artis dalam Islam. Sebab, tidak semua orang bisa menjadi teladan yang baik dalam kehidupan.
Jadi, mengidolakan seseorang diperbolehkan dalam Islam selama ada kebaikan pada orang tersebut yang bisa dijadikan panutan, seperti mengidolakannya karena dermawan, menolong orang lain, dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Namun, mengidolakan seseorang secara berlebihan menurut Islam bisa melupakan atau menjadikan Allah SWT dan rasul-Nya sebagai nomor dua dari orang yang diidolakan tersebut.
Larangan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 24 yang berbunyi:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah: 24)
Pandangan Idola dalam Islam?
Pada ajaran Islam ataupun agama lain, pasti ada contoh atau figur yang sangat pantas dijadikan idola. Adapun dalam Islam, sebaik-baik idola atau suri teladan bagi umat manusia adalah Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat di atas menerangkan bahwa segala sesuatu yang ada dalam diri Rasulullah, baik tingkah laku, perkataan, sifat, dan lain sebagainya adalah semua hal yang dapat dijadikan panutan.
Dari Rasulullah, umat muslim mengenal Islam dan memahami petunjuk-petunjuk Allah. Karenanya, umat muslim niscaya akan memperoleh kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun akhirat, jika menjadikan Rasulullah sebagai panutan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau menceritakan pertemuan seorang pemuda dengan Rasulullah sebagai berikut:
"Seorang pemuda mendatangi Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kapan terjadi hari kiamat?' Rasulullah menjawab, 'Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?'
Lelaki tersebut berkata, 'Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah menjawab, 'Sesungguhnya kamu akan dikumpulkan bersama orang yang kamu cintai.'" (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai di akhirat kelak. Jika seorang muslim mengidolakan Rasulullah atau tokoh agama Islam, maka ia akan dikumpulkan bersama mereka.
Namun, jika seorang muslim mengidolakan seseorang yang tidak memberikan manfaat kebaikan untuknya, maka ia akan dikumpulkan bersama orang tersebut di akhirat kelak.
Dengan demikian, idola dalam Islam sebaiknya adalah seseorang yang mampu membuat diri merasa termotivasi untuk terus berbuat kebaikan. Mengidolakan seseorang tentunya boleh, selama tidak berlebihan dan melanggar syariat agama Islam.
(SFR)
