Isi Perjanjian Hudaibiyah, Upaya Diplomasi Rasulullah SAW dengan Kaum Quraisy

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjanjian hudaibiyah merupakan bentuk upaya diplomasi yang dilakukan Rasulullah SAW untuk meredakan ketegangan militer antara umat Islam dengan kaum musyrikin quraisy. Perjanjian ini dikenal juga dengan sebutan "shulhul hudaibiyah".
Kesepakatan bermula ketika 1400 pengikut Rasulullah SAW berencana untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyrikin menentang keputusan tersebut. Akhirnya mereka menghalangi umat muslim dengan melancarkan serangan militer yang cukup besar.
Rasulullah SAW tidak menginginkan ada ketegangan yang berakhir peperangan antar dua belah pihak. Akhirnya Rasulullah SAW memutuskan untuk mengadakan perundingan yang menghasilkan perjanjian hudaibiyah. Perjanjian ini diputuskan pada Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H.
Isi Perjanjian Hudaibiyah
Adapun isi dari perjanjian hudaibiyah adalah sebagai berikut:
Pertama, gencatan senjata selama 10 tahun. Tiada permusuhan dan tindakan buruk terhadap masing-masing dari kedua belah pihak selama masa tersebut.
Kedua, siapa yang datang dari kaum musyrik kepada Nabi tanpa izin keluarganya, harus dikembalikan ke Makkah. Tetapi bila ada di antara kaum Muslim yang berbalik dan mendatangi kaum Musyrik, ia tidak akan dikembalikan.
Ketiga, diperkenankan siapa saja di antara suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu dari kedua pihak. Ketika itu, suku Khuza’ah menjalin kerja sama dan mengikat perjanjian pertahanan bersama dengan Nabi Muhammad saw dan Bani Bakar memihak kaum musyrik.
Keempat, tahun ini Nabi Muhamamad saw. dan rombongan belum diperkenankan memasuki Makkah, tetapi tahun depan dan dengan syarat hanya bermukim tiga hari tanpa membawa senjata kecuali pedang yang tidak dihunus.
Kelima, perjanjian ini diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan.
(MSD)
