Jelaskan Perbedaan Antara Imam dan Makmum dalam Pelaksanaan Salat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibadah salat lima waktu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan umat Muslim setiap harinya. Sebab, salat merupakan tiang agama Islam seperti yang dijelaskan dalam hadis riwayat Al Baihaqi berikut ini:
"Salat adalah tiang agama, barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.”
Dalam pengerjaanya, salat dapat dilakukan secara sendiri atau berjemaah yang terdiri dari imam dan makmum. Meski mengerjakan salat bersama, imam dan makmum punya posisi serta porsi yang berbeda.
Secara umum, perbedaan antara imam dan makmum terlihat jelas pada pengertiannya. Imam merupakan seseorang yang memimpin dalam gerakan sholat, pengucapan takbir terkecuali setelah rukuk. Sedangkan makmum adalah orang yang mengikuti gerakan imam, sehingga tidak diperkenankan mendahuluinya.
Selain itu, imam dan makmum juga memiliki perbedaan bacaan niat. Saat membaca niat salat, seorang imam harusnya menyematkan kata اِمَامًا (Imaaman), sementara makmum dengan مَأْمُوْمًا (Ma’muuman).
Dalam bacaan salat, seorang imam wajib membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya dengan suara lantang pada rakaat pertama dan kedua, kecuali dzuhur dan ashar. Sedangkan makmum hanya diwajibkan membaca surat Al Fatihah dengan suara yang lebih pelan.
Posisi antara imam dan makmum saat melaksanakan salat juga harus diperhatikan. Jika salat hanya diikuti oleh satu makmum, ia disunahkan untuk berdiri di samping kanan imam. Namun tumit kakinya tidak boleh mendahului tumit kaki imam, karena dalam salat jemaah posisi imam harus di depan makmum.
Sementara jika makmum berjumlah lebih dari satu orang, maka mereka harus berada di belakang imam. Hal ini sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim dan Abu Daud.
“Rasulullah SAW berdiri untuk shalat. Saya datang sembari berdiri di sebelah kirinya. Beliau lalu menarik tanganku dan dibawanya berputar hingga saya berada di sebelah kananya. Kemudian datang Jabir bin Shakhar dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah SAW, maka tangan kami pun ditarik oleh beliau hingga berdiri tepat di belakangnya.”
(Rav)
