Konten dari Pengguna

Kapan Idul Fitri 2026 versi NU dan Muhammadiyah? Ini Jadwalnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kalender. Foto: Kwangmoozaa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kalender. Foto: Kwangmoozaa/Shutterstock

Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat menantikan kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri. Sebab, ada kemungkinan perbedaan tanggal Lebaran di Indonesia, khususnya antara pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan astronomi, untuk menentukan Hari Raya Idul Fitri. Sementara itu, NU harus menunggu hasil rukyatul hilal atau pengamatan hilal secara langsung sebelum menetapkan awal Syawal.

Perbedaan metode tersebut kerap menyebabkan tanggal Lebaran di Indonesia tidak selalu sama. Lantas, kapan Idul Fitri 2026 versi NU dan Muhammadiyah? Mari simak informasi lengkapnya berikut ini.

Perkiraan Lebaran 2026 versi Pemerintah dan NU

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan hasil Sidang Isbat penentuan Lebaran Idul Fitri 2025 di kantor Kemenag, Jakarta Pusat pada Sabtu (29/3/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama akan menetapkan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah melalui sidang isbat. Forum resmi ini digunakan untuk menentukan awal bulan Syawal dengan mempertimbangkan kajian ilmiah sekaligus hasil pengamatan hilal.

Dikutip dari laman Kemenag RI, sidang isbat penetapan Idul Fitri 2026 dijadwalkan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026, mulai pukul 16.00 WIB. Tanggal tersebut bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah.

Penentuan awal Syawal dilakukan melalui musyawarah dengan mempertimbangkan dua metode utama, yakni data hisab atau perhitungan astronomi serta hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia. Kedua data tersebut menjadi dasar dalam pengambilan keputusan penetapan 1 Syawal.

Selain dihadiri oleh pemerintah, sidang isbat juga menjadi forum pertemuan ulama, pakar astronomi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam. Melalui forum ini, diharapkan keputusan yang dihasilkan bersifat komprehensif dan dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia.

Lebaran 2026 versi Muhammadiyah

Ilustrasi Sholat Id. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Berbeda dengan pemerintah dan NU, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam penentuan awal bulan Syawal. Metode ini memungkinkan penetapan tanggal dilakukan jauh hari sebelumnya karena didasarkan pada perhitungan astronomi.

Merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang penetapan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Keputusan tersebut ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip serta parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai acuan perhitungan.

Dalam perhitungan tersebut dijelaskan bahwa ijtimak (konjungsi bulan) menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 01.23 UTC. Dengan dasar itu, hari berikutnya langsung ditetapkan sebagai awal bulan baru.

Menjelang Lebaran, tradisi mudik kembali menjadi perjalanan yang penuh makna untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Melalui semangat #KebaikanBersama, kumparan menghadirkan beragam informasi seputar mudik, dari kondisi rute perjalanan, tips mudik, hingga rekomendasi kuliner khas daerah.

Temukan info selengkapnya di kum.pr/mudik2026

Baca Juga: Teks Takbiran Idul Fitri Lengkap untuk Malam Lebaran

(ANB)