Kenapa China dan Jepang Kembali Memanas? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara historis, hubungan China dan Jepang memang tidak begitu harmonis sejak Perang Dunia II. Meskipun tidak berselisih secara terbuka, tapi selalu ada bibit-bibit ketegangan di antara kedua negara itu.
Nah, belakangan ini, hubungan China dan Jepang kembali memanas. Dikutip dari laman BBC, China bahkan melarang warganya bepergian ke Negeri Sakura itu untuk sementara waktu.
Kementerian luar negeri masing-masing negara juga sudah mengajukan protes serius satu sama lain. Sebenarnya, kenapa China dan Jepang kembali memanas belakangan ini?
Kenapa China dan Jepang Kembali Memanas?
Untuk mengetahui alasan kenapa hubungan China-Jepang memanas, Anda perlu menelusuri sejarah antara kedua negara ini di masa lalu. Pada tahun 1800-an, Jepang menginvasi China dan menguasai Taiwan selama kurang lebih 50 tahun.
Mengutip The Guardian, ketika Jepang terpaksa menyerah dalam Perang Dunia II, mereka menyerahkan kendali Taiwan kepada Republik Tiongkok (ROC). Saat itu, pemerintah ROC yang berkuasa sedang terlibat perang saudara dengan pasukan Komunis.
ROC pada akhirnya dikalahkan oleh Komunis dan mundur ke Taiwan. Kemudian, mereka membentuk sistem pemerintahan sendiri. Lalu, Komunis mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau China.
Nah, ketegangan yang muncul belakangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi tentang Taiwan dalam pertemuan parlemen di Jepang pada Jumat (7/11). Seorang anggota parlemen oposisi bertanya kepada Takaichi tentang upaya invasi China ke Taiwan.
"Jika ada kapal perang dan penggunaan kekuatan, bagaimanapun Anda memikirkannya, itu bisa menjadi situasi yang mengancam kelangsungan hidup," ujar Takaichi.
Frasa "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" termasuk istilah hukum dalam Undang-Undang Keamanan Jepang tahun 2015. Maksudnya merujuk pada situasi di mana serangan bersenjata terhadap sekutu dapat menimbulkan ancaman eksistensial bagi Jepang. Jika hal ini terjadi, Jepang boleh mengerahkan pasukannya untuk merespons ancaman tersebut.
Pernyataan Takaichi langsung memicu kemarahan China. Sabtu (8/11) lalu, Konsul Jenderal China Xue Jian mengunggah ulang artikel tentang pernyataan Takaichi di X (Twitter) dilengkapi caption "kepala kotor yang menancap di dalamnya harus dipenggal".
Kepala sekretaris kabinet Jepang Minoru Kihara menanggapi hal tersebut saat ditanya wartawan. “Meskipun maksud dari pernyataan Xue mungkin tidak jelas, namun pernyataan tersebut sangat tidak pantas," ucapnya.
Jepang lalu mengajukan protes kepada China atas pernyataan Xue. Setelah itu, China mengajukan protesnya kepada Jepang atas pernyataan Takaichi.
Postingan Xue tersebut kini telah dihapus. Sedangkan Takaichi menolak menarik kembali pernyataannya. Namun, ia mengaku akan berhati-hati dalam mengomentari skenario situasi tertentu mulai sekarang.
Menurut para analis, situasi Jepang dan China saat ini kemungkinan besar akan berdampak pada hubungan ekonomi bilateral dan sosial kedua negara.
Peringatan China yang melarang rakyatnya ke Jepang menyebabkan saham-saham ritel dan pariwisata Negeri Sakura itu anjlok. Namun, permasalahan ini diperkirakan tidak akan sampai ke tahap konfrontasi militer alias perang.
Baca Juga: Saham Ritel-Pariwisata Jepang Rontok Usai China Keluarkan Peringatan Perjalanan
(DEL)
