Konten dari Pengguna

Kenapa China Mendadak Tutup Langit Selama 40 hari? Ini Dugaan Penyebabnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pesawat China Eastern. Foto: e X p o s e/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesawat China Eastern. Foto: e X p o s e/Shutterstock

Pemerintah China secara tiba-tiba membatasi wilayah udara lepas pantai selama 40 hari berturut-turut, mulai 27 Maret hingga 6 Mei mendatang. Langkah tak biasa ini langsung menyita perhatian dunia karena durasinya yang cukup panjang.

Durasi 40 hari tersebut bahkan dinilai sebagai sebuah “anomali” oleh para pakar internasional. Pasalnya, latihan militer atau pembatasan ruang udara biasanya hanya berlangsung beberapa hari, tidak pernah lebih dari satu bulan penuh.

Dikutip dari laman Times of India, pembatasan ini diberlakukan melalui sistem pemberitahuan penerbangan atau NOTAM (Notice to Airmen). Melalui mekanisme tersebut, Negeri Panda memberi peringatan kepada otoritas penerbangan global terkait potensi bahaya atau pembatasan sementara di wilayah udara tertentu.

Lantas, apa alasan di balik langkah China menutup langitnya hingga 40 hari? Berikut penjelasan lengkap yang perlu Anda ketahui.

Kenapa China Mendadak Tutup Langit Selama 40 Hari?

Ilustrasi pesawat China Eastern. Foto: Daniel Slim/AFP

Langkah China menutup sebagian wilayah udaranya selama 40 hari memicu beragam spekulasi di tingkat global. Pasalnya, hingga saat ini, pemerintah mereka belum memberikan penjelasan resmi terkait tujuan kebijakan tersebut.

Meski tidak diumumkan secara terbuka, kawasan yang dibatasi tersebut memang dikenal sebagai koridor yang kerap digunakan untuk latihan militer. Area ini juga sering dimanfaatkan untuk simulasi berbagai manuver tempur udara.

Namun, yang membuat kebijakan ini terasa janggal adalah cakupan wilayahnya yang sangat luas. Berdasarkan data dari Federal Aviation Administration (FAA), area tersebut membentang sekitar 340 mil di lepas pantai timur China, bahkan disebut lebih luas dibandingkan pulau utama Taiwan. Berikut cakupan wilayahnya:

  • Ruang udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai.

  • Wilayah strategis di Laut Kuning yang berhadapan langsung dengan Semenanjung Korea.

  • Kawasan Laut China Timur yang bersinggungan dengan wilayah kedaulatan Jepang.

Ilustrasi pesawat jet tempur J-15 milik China. Foto: Hector Retamal/AFP

China bahkan menetapkan status SFC-UNL (Surface to Unlimited). Artinya, zona ini tidak memiliki batas vertikal, sehingga pembatasannya berlaku untuk seluruh aktivitas udara hingga ke ruang angkasa.

Dikutip dari laman The Wall Street Journal, sejumlah pakar menilai area ini berpotensi dimanfaatkan Beijing untuk melatih berbagai manuver tempur udara. Latihan tersebut dinilai relevan untuk berbagai skenario konflik, termasuk jika ketegangan di sekitar Taiwan kembali meningkat.

Penilaian ini muncul karena hubungan China dan Taiwan hingga kini masih diliputi ketegangan dan belum memiliki jalur diplomatik resmi. Meski begitu, dijelaskan Metro.co.uk, intelijen Amerika Serikat menilai Beijing tidak sedang merencanakan invasi dalam waktu dekat.

Ilustrasi pesawat China Eastern. Foto: Justin Tallis/AFP

Di sisi lain, Ray Powell, Direktur Proyek SeaLight di Stanford University, menyebut langkah ini sebagai indikasi pergeseran strategi yang cukup mencolok.

“Kombinasi status SFC-UNL (permukaan hingga ketinggian tak terbatas) dengan durasi 40 hari dan tanpa adanya pengumuman latihan militer resmi menunjukkan kesiapan operasional berkelanjutan, bukan sekadar latihan terpisah,” ujar Powell sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal.

Baca Juga: Begini Cara Perusahaan Elektronik China Hadapi ‘Tarif Trump’

(ANB)