Konten dari Pengguna

Kenapa Cuaca Sekarang Panas? Ini Penyebabnya Menurut BMKG

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak balita menggunakan payung di cuaca panas. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak balita menggunakan payung di cuaca panas. Foto: Shutter Stock

Memasuki bulan Desember biasanya cuaca diprediksi lebih berawan dan hujan. Namun, kenapa cuaca sekarang panas, khususnya di wilayah Jabodetabek?

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan tanggapan mengenai fenomena ini. Pihaknya menyebutkan bahwa potensi hujan di wilayah Jabodetabek memang cukup rendah menjelang akhir tahun 2023.

Penyebabnya karena fenomena atmosfer yang memicu berkurangnya potensi hujan. Pola tekanan yang rendah juga terjadi di wilayah Samudera Hindia Barat Aceh dan Laut Natuna.

Menurut BMKG, dinamika atmosfer ini dapat memicu berkurangnya massa udara basah di sebelah selatan ekuator. Akibatnya, potensi awan hujan pun relatif berkurang di cakupan wilayah tersebut, termasuk Jawa dan Jabodetabek.

Selain fenomena atmosfer, ada penyebab lain kenapa cuaca sekarang panas. Apa saja? Simak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Alasan Cuaca Sekarang Panas

Ilustrasi cuaca panas. Foto: Shutterstock

BMKG menyebutkan bahwa penyebab utama rendahnya curah hujan di wilayah Jawa, khususnya di Jabodetabek adalah karena fenomena El Nino Moderat. Fenomena ini diprediksi akan terus berlangsung sampai Februari-Maret 2024.

Mengutip jurnal berjudul “Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina" susunan Bambang Irawan, gejala El Nino biasanya ditandai dengan meningkatnya suhu muka laut di kawasan Pasifik secara berkala. Kondisi ini berlangsung dalam beberapa waktu tertentu, sehingga menyebabkan meningkatnya perbedaan tekanan udara.

Fenomena tersebut juga memicu pengurangan pertumbuhan awan hujan di wilayah barat. Akibatnya, cuaca cenderung cerah berawan dan hujan ringan yang tidak terlalu signifikan.

Selain El Nino, fenomena Dipole Mode juga ikut memengaruhi penurunan curah hujan di wilayah Jawa. Dipole Mode adalah fenomena interaksi laut-atmosfer yang terjadi di Samudera Hindia.

Kondisi ini dihitung dari perbedaan nilai atau selisih anomalis suhu muka laut di perairan sebelah timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Jika Dipole Mode positif, maka curah hujan di wilayah barat pun cenderung akan berkurang.

Ilustrasi cuaca panas. Foto: FREDERIC J. BROWN / AFP

Mengutip Instagram @infobmkg, kondisi cuaca panas secara umum juga dipicu oleh dominasi cuaca cerah pada siang hari. Ini terjadi di sebagian besar wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara.

Berdasarkan citra satelit cuaca beberapa hari terakhir, wilayah Jawa dan Indonesia bagian selatan tidak tertutup awan. Hal ini menyebabkan sinar matahari intens atau optimum tembus langsung ke permukaan bumi.

Kurangnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa-Nusa Tenggara tersebut turut dipicu oleh aktifitas pola tekanan rendah di sekitar Laut Cina Selatan. Akibatnya, aliran massa udara basah ke arah selatan ekuator pun berkurang.

Berdasarkan analisis terbaru, aktifitas pola tekanan rendah di sekitar Laut Cina Selatan tersebut masih dapat berlangsung selama 3-4 hari ke depan. Potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jawa-Nusa Tenggara dapat terjadi mulai tanggal 23 Desember 2023 mendatang.

(MSD)