Kenapa Festival Songkran Thailand Makan Banyak Korban? Ini Penyebabnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Festival Songkran adalah perayaan Tahun Baru tradisional Thailand yang jatuh setiap pertengahan April. Perayaan ini dikenal sebagai ajang perang air terbesar di dunia dan menjadi daya tarik bagi wisatawan internasional.
Dijelaskan dalam laman National Geographic, Songkran berakar dari ajaran Buddha dan dipengaruhi festival Hindu seperti Holi. Air dalam festival ini melambangkan pembersihan diri dari hal-hal buruk sepanjang tahun lalu. Biasanya festival ini digelar pada 13-15 April, meski tanggal pastinya bisa berubah tergantung keputusan pemerintah Thailand.
Namun di balik kemeriahan itu, Festival Songkran kerap menelan korban jiwa, bahkan hingga 191 orang dalam kurun waktu lima hari perayaan tahun 2026. Pertanyaannya, kenapa Festival Songkran Thailand kerap makan banyak korban? Berikut adalah penjelasannya.
Kenapa Festival Songkran Thailand Makan Banyak Korban?
Menurut laman NDTV, jutaan warga Thailand yang merantau ke Bangkok atau kota-kota besar lainnya pulang kampung merayakan Tahun Baru bersama keluarga. Padatnya jumlah kendaraan di jalan raya dalam waktu bersamaan ini yang memicu lonjakan kecelakaan dan memakan banyak korban.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa faktor yang mendorong tingginya angka kematian selama festival berlangsung.
Mengemudi dengan Kecepatan Berlebih: Mengutip laman Bangkok Post, mengebut menjadi penyebab utama kecelakaan selama Songkran 2026, menyumbang sekitar 38,54% dari total kejadian. Banyak pengendara memacu kendaraan di jalan antarkota yang lurus dan sepi sehingga mudah kehilangan konsentrasi.
Mengemudi dalam Keadaan Mabuk: Menurut sumber yang sama, mengemudi dalam pengaruh alkohol turut menyumbang 28,13% dari jumlah kecelakaan. Departemen Probasi Thailand mencatat ada 3.726 kasus mengemudi dalam keadaan mabuk selama lima hari festival.
Dominasi Pengendara Motor: Sepeda motor terlibat dalam 72,88% jumlah kecelakaan selama festival berlangsung. Banyak pengendara tidak menggunakan helm yang meningkatkan risiko cedera serius saat kecelakaan.
Jam Rawan yang Diabaikan: Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand mencatat kecelakaan paling banyak terjadi antara pukul 15.01 hingga 18.00, yakni jam ketika lalu lintas padat dan kelelahan pengendara mulai meningkat. Selain itu, kelompok usia yang paling banyak menjadi korban adalah rentang 20-29 tahun.
Meskipun pemerintah Thailand rutin menggelar kampanye keselamatan jalan, menambah titik pemeriksaan polisi, dan memperketat aturan mengemudi dalam pengaruh alkohol, angka korban jiwa selama Festival Songkran belum menunjukkan penurunan yang berarti setiap tahunnya.
Mengutip laman New York Post, Thailand bahkan sudah masuk daftar sembilan negara paling mematikan untuk kecelakaan jalan raya versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Di sisi lain, festival ini tetap menjadi magnet wisata yang besar. Songkran 2026 diperkirakan mendatangkan sekitar 500.000 wisatawan mancanegara dengan perputaran ekonomi mencapai 30,4 miliar baht atau sekitar 16,28 triliun rupiah.
(FHK)
Baca juga: Susunan Upacara Hari Kartini 2026, dari Persiapan hingga Selesai
