Kenapa Imlek Identik dengan Hujan? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Imlek merupakan momen penting dalam budaya Tionghoa yang diselenggarakan untuk merayakan pergantian tahun. Mengacu pada kalender lunar, Imlek biasanya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari, di mana bertepatan dengan cuaca hujan di Indonesia.
Hal inilah yang memunculkan anggapan di kalangan masyarakat bahwa Imlek selalu identik dengan hujan. Dalam budaya Tionghoa, hujan saat Imlek juga dianggap dapat membawa berkah dan rezeki melimpah karena melambangkan kesuburan.
Lantas, mengapa Imlek identik dengan hujan? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam uraian berikut ini.
Kenapa Imlek Identik dengan Hujan?
Perayaan Imlek di sejumlah wilayah dilaksanakan pada momen yang berbeda-beda. Misalnya di Tiongkok, Imlek bertepatan dengan akhir musim dingin dan awal musim semi, sementara di Australia justru berlangsung pada puncak musim panas.
Berbeda dengan wilayah tersebut, perayaan Imlek di Indonesia justru jatuh pada musim hujan. Itulah kenapa, hujan sering dianggap sebagai ciri khas yang menyertai perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia.
Selain faktor iklim, hujan memiliki makna penting dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Dalam sebuah studi oleh Zeyang Li yang dipublikasikan di International Journal of Languages, Literature and Linguistics, hujan dipandang sebagai simbol rezeki. Pandangan ini berakar dari kehidupan masyarakat Tiongkok pada masa lalu yang banyak bergantung pada sektor pertanian, sementara kondisi tanah relatif kering dan membutuhkan air.
Oleh sebab itu, hujan dianggap sebagai anugerah dan karunia alam. Hujan yang turun di awal tahun dipercaya dapat membawa harapan baik dan kelancaran di sepanjang tahun.
Makna hujan juga disebutkan dalam laman The Macau Post Daily, di mana hujan dianggap sebagai simbol pembersihan, pembaruan, dan pertumbuhan. Hujan dipercaya mampu membersihkan hal-hal yang sudah tidak bermanfaat, serta memberi ruang bagi sesuatu yang lebih baik.
Selain hujan, perayaan Imlek juga identik dengan berbagai tradisi khas lainnya seperti petasan, kembang api, penggunaan warna merah, serta pertunjukan tari singa (barongsai) dan tarian naga (liang liong).
Menurut laman Chinese Fortune Calendar, masyarakat Tionghoa meyakini naga sebagai makhluk spiritual yang berkaitan dengan hujan dan air. Tarian naga dimaknai sebagai doa agar hujan turun dengan cukup, sehingga hasil pertanian melimpah.
Perayaan Imlek Tahun 2026
Tahun Baru Imlek ditentukan berdasarkan kalender lunar yang mengacu pada peredaran bulan dan matahari. Sistem ini membuat tanggal Imlek selalu berubah jika dibandingkan dengan kalender Gregorian yang digunakan secara internasional. Perbedaannya bisa terpaut 21-51 hari setiap tahunnya.
Berdasarkan laman China Highlights, meski tanggalnya berubah-ubah, Imlek selalu jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari. Dalam budaya Tionghoa, Tahun Baru Imlek dilambangkan dengan satu dari dua belas shio, yaitu Tikus, Sapi, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi, serta dipadukan dengan lima elemen yaitu Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air.
Adapun Tahun Baru Imlek 2026 menandai dimulainya tahun Kuda Api. Periode ini berlangsung mulai 17 Februari 2026 hingga 5 Februari 2027. Tahun-tahun Kuda sebelumnya tercatat terjadi pada 2014, 2002, dan 1990.
Tahun Kuda Api kerap dipandang sebagai tahun yang penuh optimisme dan peluang baru. Karakter kuat dari elemen api diyakini membawa semangat perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Baca Juga: Logo dan Tema Imlek Nasional 2026 yang Mengusung Semangat Persatuan
(SA)
