Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Alasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah lewat serangan militer terbuka terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Komando Pusat Amerika Serikat menamai operasi tersebut sebagai Operasi Epic Fury.
Dikutip dari laman Aljazeera, Operasi Epic Fury melibatkan pengerahan kekuatan militer AS secara besar-besaran. Tujuannya adalah melumpuhkan aparat keamanan Iran, terutama fasilitas komando, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta sistem pertahanan udara yang dinilai menimbulkan ancaman langsung.
Namun, serangan ini bukanlah keputusan yang diambil dalam semalam. Ada beberapa faktor yang mendorong Washington dan Tel Aviv akhirnya memilih jalur militer terhadap Teheran. Lantas, apa sebenarnya alasan Israel dan AS menyerang Iran? Simak penjelasannya berikut ini.
Mengapa AS dan Israel Menyerang Iran?
Mengutip laman BBC, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
"Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. Industri itu akan benar-benar dimusnahkan," katanya dalam video berdurasi delapan menit yang diunggah di Truth Social pada Sabtu pagi (28/02).
Serangan itu dilancarkan sehari setelah Trump menyatakan kekecewaannya atas mandeknya negosiasi untuk menghentikan kemampuan nuklir Iran. Amerika menilai jalur diplomasi tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, sehingga opsi militer dianggap sebagai langkah yang perlu diambil.
Menurut Trump, kepemilikan senjata nuklir oleh Iran akan menjadi ancaman serius bagi keamanan global, terutama bagi Israel dan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah.
Namun, Iran berulang kali menepis tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa seluruh program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan kebutuhan sipil.
Iran sendiri sudah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang memperbolehkan pemanfaatan teknologi nuklir untuk sektor seperti kedokteran, pertanian, dan energi, namun melarang pengembangan senjata nuklir.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut operasi militer tersebut sebagai upaya menghapus “ancaman eksistensial” dari rezim Iran. Bagi Israel, ambisi nuklir Teheran dipandang sebagai risiko langsung terhadap keamanan dan kelangsungan negaranya.
Baik Israel maupun Amerika Serikat meyakini bahwa jika Iran sampai memiliki senjata nuklir, keseimbangan kekuatan di Timur Tengah akan berubah drastis. Kondisi itu dikhawatirkan memicu perlombaan senjata baru dan memperbesar potensi konflik yang lebih luas.
Mengutip CNN, Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain dan Uni Emirat Arab. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa “pertumpahan darah dan balas dendam” adalah hak sekaligus kewajiban yang sah bagi negaranya.
Baca Juga: Israel Gempur Pusat Teheran Senin Pagi Ini
(ANB)
