Keterkaitan Jatuhnya Konstantinopel 1453 dengan Bangsa Eropa dalam Jalur Rempah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah dunia. Wilayah yang menjadi ibu kota Kekaisaran Bizantium selama ribuan tahun itu takluk oleh Sultan Mehmed II dari Kesultanan Utsmaniyah.
Peristiwa ini tidak hanya menandai berakhirnya Kekaisaran Bizantium, tapi juga kebangkitan Kesultanan Utsmaniyah. Selain itu, terjadi banyak konsekuensi ekonomi dan geopolitik yang memengaruhi negara-negara Eropa secara signifikan, termasuk dalam hal perdagangan rempah-rempah.
Lantas, bagaimana keterkaitan antara jatuhnya Konstantinopel 1453 dengan bangsa Eropa dalam jalur rempah? Simak penjelasannya di bawah ini.
Keterkaitan Jatuhnya Konstantinopel 1453 dengan Bangsa Eropa dalam Jalur Rempah
Dikutip dari laman GT Health, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 mengganggu jalur perdagangan darat antara Eropa dan Asia, khususnya Jalur Sutra. Itu karena Kesultanan Utsmaniyah menguasai rute tersebut.
Kesultanan Utsmaniyah juga memberlakukan tarif cukup tinggi pada barang-barang yang melewati wilayah mereka, seperti rempah-rempah, sutra, dan logam mulia. Hal ini membuat orang-orang Eropa semakin sulit untuk berdagang. Ketidakstabilan politik di masa itu juga semakin mengganggu perdagangan.
Sementara itu, permintaan rempah-rempah seperti lada, kayu manis, dan cengkeh sangat tinggi di Eropa, karena digunakan untuk masakan dan pengobatan. Karena itu, akhirnya negara-negara Eropa, terutama Portugal dan Spanyol, mencari rute baru perdagangan rempah.
Saat itu, negara Eropa juga ingin menghindari ketergantungan perdagangan pada perantara, seperti pedagang Utsmaniyah dan Venesia. Maka dimulailah penjelajahan mereka melewati rute laut untuk mencari rempah.
Portugal di bawah komando Pangeran Henry sang Navigator mulai menjelajahi pantai Afrika. Mereka mengitari Cape of Good Hope sekitar tahun 1497-1498, lalu akhirnya menemukan India yang kaya akan rempah.
Terinspirasi dari keberhasilan Portugal, Spanyol pun mendanai ekspedisi Christopher Columbus ke barat dengan harapan menemukan rute langsung ke Asia. Dikutip dari laman History, orang-orang Eropa pada saat itu tidak mengenal rute laut langsung ke Asia Selatan.
Sementara itu, rute melalui Mesir dan Laut Merah ditutup bagi orang Eropa oleh Kesultanan Utsmaniyah. Itulah mengapa Columbus menempuh rute ke barat. Namun, pelayaran Columbus pada tahun 1492 ternyata tidak mencapai Asia, tapi malah menemukan New World atau daratan Amerika.
Kesimpulannya, kejatuhan Konstantinopel pada 1453 mendorong negara-negara Eropa untuk mengeksplorasi wilayah maritim. Lalu akhirnya menemukan jalur yang menghubungan Eropa, Asia, Afrika, hingga Amerika.
Periode Setelah Konstantinopel Ditaklukkan Kesultanan Utsmaniyah
Dikutip dari laman Britannica, Sultan Mehmed II sangat berhati-hati dalam menangani urusan setelah jatuhnya Konstantinopel. Ia menghindari pembantaian rakyat jelata dan bangsawan, dan lebih memilih memulangkan mereka kembali ke negara asalnya.
Mehmed II lalu memindahkan ibu kota kesultanannya dari Edirne ke Konstantinopel. Kemudian mengisi kota itu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang serta agama.
Peristiwa ini juga menandai berakhirnya Abad Pertengahan dan dimulainya Renaisans. Itu karena banyak umat Kristen dari Konstantinopel yang mengungsi ke Italia.
Dikutip dari laman Saints Sophia, pengungsi itu membawa pengetahuan tentang karya klasik kuno dan manuskrip-manuskrip berharga.
Hal itu memungkinkan masyarakat untuk lebih memahami para filsuf dan penulis lain dari era kuno. Akhirnya, pengetahuan mengubah arah pemikiran mereka jadi lebih humanis dan memberi kontribusi untuk peradaban modern.
Baca Juga: Bagaimana Sejarah Kota Konstantinopel? Ini Kronologinya
(DEL)
