Konten dari Pengguna

Kisah Raja Herodes Agung, Pemimpin Yudea yang Kejam

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Raja Herodes Agung foto: YouTube/Patheos
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Raja Herodes Agung foto: YouTube/Patheos

Raja Herodes Agung dikenal sebagai pemimpin bangsa Yudea yang kejam. Dia selalu merasa curiga terhadap mereka yang berpotensi mengancam posisinya sebagai raja.

Mengutip Tugas Akhir Kekejaman Herodes Agung: Studi Sosio-Politik Terhadap Rivalitas Herodes Agung dengan Mesias dalam Matius 2:1-8 oleh Albert Josua Putra Maliogha (2015), kegelisahan Raja Herodes Agung mendorong dirinya melakukan hal-hal keji seperti pembunuhan.

Salah satu pembunuhan yang dilakukan adalah pembantaian terhadap bayi untuk mencegah kelahiran Yesus. Hal tersebut dimuat dalam Alkitab, tepatnya Injil Perjanjian Baru Matius.

Lantas, bagaimana kisah Raja Herodes Agung? Simak ulasannya melalui artikel berikut.

Ilustrasi Raja Herodes Agung foto: YouTube/Timeline-World History Documentaries

Kisah Raja Herodes Agung yang Kejam

John Drane dalam buku Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis (2005) memaparkan, Raja Herodes Agung merupakan seorang raja dan politikus yang kejam dan licik. Dia rela melakukan apa pun untuk melindungi takhtanya sebagai raja.

Mengutip buku Kepemimpinan dalam Perjanjian Baru oleh Dr. Wendy Sepmady Hutahaean, S. E., M. Th. (2021), Herodes menikah dengan istrinya, Mariame yang merupakan seorang putri Dinasti Hasmonean penguasa Yudea.

Kendati demikian, Herodes akhirnya membunuh sMariame, mertuanya yang bernama Hirkanus, serta ketiga saudaranya Aleksander, Aristobulus, dan Antipater. Mereka dicurigai ingin mengkudeta kedudukannya.

Suatu ketika, tiga orang Majus dari Timur datang ke Yerusalem. Mereka memberitahukan kelahiran Yesus kepada Raja Herodes Agung. Seperti dikatakan dalam Injil Matius 2 ayat 2.

"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di timur dan kami datang untuk menyembah dia."

Ilustrasi Raja Herodes Agung foto: YouTube/Timeline-World History Documentaries

Mendengar hal tersebut, Raja Herodes Agung merasa terancam. Dia memerintahkan prajuritnya untuk membunuh anak-anak di Betlehem dan sekitarnya yang berusia dua tahun ke bawah. Tujuan utamanya adalah membunuh bayi Yesus.

Namun, seorang malaikat datang dan memberikan peringatan kepada Yusuf. Malaikat itu meminta Yusuf melarikan diri ke Mesir dan menetap di sana selama beberapa lama.

"Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias anak dilahirkan."

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."

Yusuf dan Maria akhirnya kabur dan menetap di Mesir hingga Raja Herodes Agung meninggal dunia. Kemudian, Yesus pun lahir di Kota Betlehem.

Usai kematian Herodes, kerajaannya diwariskan untuk ketiga anaknya. Di antaranya daerah Yudea dan Samaria untuk Herodes Arkhealaus, kerajaan daerah Galilea dan Perea untuk Herodes Antipas, dan daerah Timur Laut untuk Filipus.

(GTT)

Frequently Asked Question Section

Siapa Raja Herodes Agung?

chevron-down

Raja Herodes adalah pemimpin Yudea yang hebat, namun kejam dan licik.

Mengapa Raja Herodes Merencanakan Pembantaian?

chevron-down

Raja Herodes Agung merencanakan pembantaian karena merasa bahwa kedudukannya sebagai raja terancam.

Apa Perintah Raja Herodes Agung Setelah Mendengar Tiga Orang Majus?

chevron-down

Raja Herodes Agung memerintahkan prajuritnya untuk membunuh anak-anak di Betlehem dan sekitarnya yang berusia dua tahun ke bawah. Tujuan pembantaian ini adalah membunuh Yesus.