Kota di Indonesia yang Dilalui Garis Khatulistiwa dan Pengaruhnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara astronomis, wilayah Indonesia terletak antara 6’LU -11 LS dan 95’BT -141 LU. Karena letak astronomis tersebut, negara Indonesia pun dilalui garis khatulistiwa atau garis equator.
Ini merupakan garis lintang dengan nilai 0 derajat yang membagi bumi menjadi dua bagian, yaitu belahan bumi utara dan selatan. Kota di Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa adalah Kota Pontianak di Kalimantan Barat, Kota Bonjol di Sumatra barat, Kota Tumbu di Sulawesi, dan Maluku.
Dikutip dari buku Ensiklopedia Seri Cuaca dan Iklim 1 oleh Delik Iskandar, dkk., Kalimantan Barat adalah provinsi yang paling panjang dilalui garis khatulistiwa, yakni sejauh 466 km. Garis lintang ini persis nol derajat terletak di kota Pontianak. Itu mengapa Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.
Selain dilewati garis khatulistiwa, letak astronomis tersebut juga mempengaruhi Indonesia dalam beberapa hal. Apa saja?
Pengaruh Letak Astronomis Indonesia terhadap kehidupan Sehari-hari
Zicheng Hong dan Zhizhong Cai dalam buku Roots of Wisdom menyebutkan, ada beberapa pengaruh letak astronomis terhadap kehidupan di Indonesia, yaitu:
Wilayah Indonesia berada di zona iklim tropis
Indonesia yang terteletak di sepanjang garis khatulistiwa membuatnya memiliki iklim tropis. Wilayah negara dengan iklim tropis biasanya memperoleh sinar matahari sebagai pusat tata surya sepanjang waktu. Ini yang membuat Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau.
Wilayah Indonesia terbagi menjadi tiga daerah waktu
Letak astronomis juga membuat Indonesia terbagi menjadi tiga daerah waktu, yaitu WIB, WITA, dan WIT. Penetapan ini berdasarkan keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1987.
Indonesia Bagian Barat (WIB), berbatasan dengan garis 105’BT. Wilayah ini meliputi pulau Sumatra, Jawa, Madura, Provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi Kalimantan Barat.
Indonesia Bagian Tengah (WITA), wilayah tersebut berbatasan dengan garis 120’BT, yang meliputi pulau Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.
Indonesia Bagian Timur (WIT), wilayah ini berbatasan dengan garis 135 BT. Wilayahnya meliputi pulau-pulau di Maluku hingga Papua.
Letak Indonesia yang dilewati garis katulistiwa ternyata juga membawa pengaruh pada ragam flora atau tumbuh-tumbuhan yang dimiliki Indonesia. Apa saja?
Ragam Flora di Indonesia
Dikutip dari buku IPS Terpadu oleh Nana Supriatna, dkk., vegetasi alam di wilayah kepulauan Indonesia banyak dipengaruhi oleh keadaan iklim yang lembab serta jumlah curah hujan yang banyak. Selain itu, daratan antara kepulauan Indonesia dengan benua Asia dan Australia yang pernah terbentuk membuat Indonesia berfungsi sebagai jembatan bagi penyebaran flora Asia maupun Australia.
Tingginya curah hujan dan suhu udara membuat pengaruh Asia lebih terasa dibandingkan dengan pengaruh Australia. Namun, hal ini tidak berlaku di Nusa Tenggara Timur yang memiliki iklim lebih kering. Pengaruh iklim ini pun membuat ragam flora Indonesia memiliki karakteristiknya tersendiri, yaitu:
Umumnya selalu berwarna hijau, hanya sedikit yang memperlihatkan adanya musim gugur. Contohnya adalah pohon jati yang menjadi tanda datangnya musim kering.
Jumlah spesies dan tumbuhan yang bervariasi.
Memiliki tumbuhan endemik atau tumbuhan asli Indonesia yang bermacam-macam.
Masih dari sumber yang sama, tumbuhan berbunga endemik di Indonesia banyak ditemukan di Irian dengan 124 marga, Kalimantan dengan jumlah 59 marga, Sumatera 17 marga, dan Jawa 10 marga.
Flora Indonesia termasuk dalam daerah flora Indo Malaysia dan Flora Australia bercampur dengan Sub Antartika. Flora Indo Malaysia tersebar di kawasan Indonesia Barat, meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Contoh dari ragam flora ini adalah pohon rotan.
Sedangkan flora jenis Australia dan Sub Antartika banyak tersebar di kawasan Indonesia Timur, meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Ragam jenis flora ini adalah kayu berharga Nothofagus, Cemara, Podocapus, Agathis, dan Araucaria yang banyak ditemukan di pegunungan Irian.
(IPT)
