Kronologi Konflik Netizen Korea vs SEAblings yang Viral di X

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial X dalam beberapa hari terakhir diramaikan perdebatan sengit antara netizen Korea Selatan (Knetz) dan warganet Asia Tenggara. Perang dunia maya ini bahkan melibatkan ribuan akun dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam.
Keributan diketahui bermula dari konser band DAY6 di Malaysia pada akhir Januari 2026. Dalam konser tersebut, seorang fansite asal Korea dilaporkan melanggar aturan yang berlaku di lokasi.
Insiden itu kemudian viral di media sosial X dan memicu beragam respons tajam dari Knetz. Situasi kian memanas hingga berubah menjadi saling serang dengan komentar bernada rasial yang semakin kasar.
Menanggapi situasi tersebut, netizen dari berbagai negara Asia Tenggara bersatu membentuk aliansi SEAblings sebagai simbol solidaritas regional lintas negara. Untuk mengetahui bagaimana kronologi konflik warganet Korea dengan netizen Asia Tenggara, simak kronologi selengkapnya berikut ini.
Kronologi Konflik Knetz vs SEAblings
DAY6 sukses menggelar konser di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu, 31 Januari 2026. Pertunjukan berlangsung meriah dan disambut antusias ribuan penggemar yang memadati arena.
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul laporan dari sejumlah fans Malaysia terkait dugaan pelanggaran aturan selama konser berlangsung. Isu tersebut pertama kali mencuat lewat unggahan warganet di X yang membagikan foto serta kronologi kejadian.
Salah satu fansite asal Korea disebut nekat membawa kamera DSLR lengkap dengan lensa panjang ke dalam venue. Padahal, promotor telah secara tegas melarang penggunaan kamera profesional demi menjaga kenyamanan penonton lainnya.
Meski oknum fansite tersebut telah menyampaikan permintaan maaf, sebagian netizen Korea Selatan masih mempermasalahkan aturan larangan di konser itu. Perdebatan pun berlanjut, dengan respons yang cenderung defensif di media sosial.
Kemarahan yang semula bersifat personal perlahan melebar ke isu yang lebih sensitif. Sejumlah komentar bernada rasis terhadap penggemar Malaysia dan masyarakat Asia Tenggara mulai bermunculan dan memanaskan linimasa.
Beberapa warganet Korea Selatan bahkan sempat menyindir bahwa masyarakat Asia Tenggara menggemari K-pop karena tidak memiliki idola dari negara sendiri.
Bahkan, permasalahan makin runyam ketika sebagian netizen Korea mulai melontarkan hinaan kepada artis-artis Asia Tenggara, termasuk No Na. Video klip No Na yang menampilkan nuansa musim panas dengan latar persawahan di Indonesia pun dijadikan sasaran ejekan.
Mereka mencibir dengan kalimat yang dinilai sangat menghina, "Aku tidak punya uang jadi aku tidak menyewa peralatan. Apakah kalian sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?" tulis salah satu akun K-Netz yang mengunggah cuplikan musik video No Na.
Melihat banyaknya ujaran kebencian, solidaritas lintas negara Asia Tenggara pun terbentuk. Netizen dari Thailand hingga Vietnam bersatu membela Indonesia dan Malaysia.
Istilah “SEAblings” kemudian digaungkan sebagai simbol persatuan warga Asia Tenggara dalam melawan narasi rasis. Hingga Jumat, 13 Februari 2026, perdebatan masih berlangsung dengan pesan utama tentang pentingnya menghormati aturan setempat serta menghindari komentar diskriminatif di ruang digital.
Baca Juga: No Na Banjir Dukungan Usai Terseret 'Perang' K-Netz vs SEAblings di akun X
(ANB)
