Konten dari Pengguna

Kumpulan Hadits tentang Rasa Malu untuk Direnungkan Umat Muslim

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alquran. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Alquran. Foto: Freepik

Malu adalah sifat atau perasaan seseorang untuk membentengi dirinya dalam melakukan tindakan yang kurang sopan. Agama Islam memerintahkan umatnya untuk memiliki sifat malu dalam sebagai ciri orang beriman.

Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

Artinya: ''Iman itu lebih dari 70 (tujuh puluh) atau 60 (enam puluh) cabang, cabang iman yang tertinggi adalah mengucapkan 'La ilaha illallah', dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.'' (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengutip buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/Mts Kelas IX, sifat malu dalam Islam terbagi menjadi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Malu Kepada Allah SWT: Orang yang mempunya rasa malu kepada Allah SWT, maka akan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Malulah kalian kepada Allah dengan sungguh-sungguh rasa malu, yaitu dengan menjaga kepala dan isinya; perut dan makanannya; meninggalkan kesenangan dunia; dan mengingat mati."

  2. Malu Kepada Manusia: Orang yang malu kepada manusia maka akan menjaga pandangannya dan tidak memiliki keberanian melakukan dosa di hadapan orang lain.

  3. Malu Kepada Diri Sendiri: Ketika orang memiliki rasa malu kepada dirinya sendiri, maka ia tidak akan sanggup melakukan perbuatan dosa walaupun sedang sendirian.

Selain dalil tersebut, di bawah ini ada beberapa hadits tentang rasa malu lainnya yang dihimpun dari laman resmi Kementerian Agama Kalimantan Barat.

Hadits tentang Rasa Malu

Alquran. Foto: Freepik

Islam menggambarkan wajah yang dihiasi dengan rasa malu bagaikan permata yang tersimpan dalam sebuah bejana bening. Tidak ada seorang pun yang memakai perhiasan lebih indah dan memukau daripada perhiasan rasa malu.

Hal ini sesuai hadits dari Anas Bin Malik radiyallahu'anhu bahwasannya Rasulullah SAW berkata:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

Artinya: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.

Allah SWT sangat mencintai orang yang memiliki sifat malu dalam dirinya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.” (HR. Baihaqi).

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menjadi salah seorang yang dicintai Allah SWT. Sebab, beliau merupakan sosok yang pemalu melebihi gadis yang sedang dipingit. Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” (HR. Bukhari).

Sifat malu juga dapat menghantarkan pemiliknya ke dalam surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

Artinya: “Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, dan Al Hakim).

Seseorang yang memiliki sifat malu juga akan terhindar dari maksiat. Hal ini telah dijelaskan dalam hadits dari Ibnu Umar Radhiayallahu ‘anhu, ia berkata:

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya: Sungguh, malu telah merugikanmu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

Artinya: Biarkan dia, karena malu termasuk iman.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban).

(NDA)