Kumpulan Hadits tentang Sahabat dalam Islam yang Bisa Direnungkan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pandangan Islam, penting bagi seseorang untuk memiliki sahabat. Sebab, ada banyak manfaat dan petunjuk serta maslahat bagi orang-orang yang menjalin persahabatan.
Imam Al-Ghazali membagi persahabatan menjadi dua kategori dalam buku Kiat-kiat Menjalin Persahabatan dalam Islam karya Kusnadi, yaitu:
Kategori kebetulan. Maksudnya adalah persahabatan ini terjadi dengan seseorang yang posisinya berdekatan dengan kita. Contoh: sahabat sekolah, sahabat tumah.
Kategori pilihan sendiri. Maksud kategori ini adalah persahabatan bisa datang berdasarkan tujuan manusia itu sendiri, bisa karena perasaan senang berteman dengannya, atau saling memberikan manfaat satu sama lain, dan bisa juga didasarkan karena Allah SWT.
Hal-hal yang berkaitan dengan persahabatan juga banyak dijelaskan dalam hadits Rasulullah. Apa sajakah hadits tentang sahabat berdasarkan sabda Rasulullah? Cari tahu jawabannya di bawah ini.
Hadits tentang Sahabat
Berikut adalah beberapa hadits tentang sahabat yang dikutip dari buku Mutiara Sahabat Rasulullah Saw oleh Radie Ramli.
"Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; Tidak boleh menzhalimi atau menghinakan atau mencelanya. Ketakwaan ada di sini –sambil menunjuk ke arah dada tiga kali. Cukuplah seorang muslim itu menjadi jelek hanya dengan mencela saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain diharamkan darahnya, harta, serta kehormatannya.” (HR. Muslim)
“Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.” (HR. Muslim)
“Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa beliau pernah bersabda: “Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman: ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR. Bukhori dan Muslim)
“Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.’” (HR. Tirmidzi)
“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” (HR. Hakim)
“Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud)
“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR Muslim)
“Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (HR Al-Hakim)
(NDA)
