Konten dari Pengguna

Kumpulan Puisi tentang Sekolah dan Pendidikan yang Kreatif serta Penuh Makna

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa di sekolah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa di sekolah. Foto: Pixabay

Sekolah merupakan tempat berpusatnya segala mimpi, harapan, dan cita-cita seseorang. Pendidikan yang ditempuh selama kurang lebih 12 tahun di sekolah memiliki banyak kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.

Seiring berjalannya waktu, tak jarang seseorang mengingat kembali kejadian menarik, memori bersama sahabat, dan tempat favorit selama bersekolah. Rasa rindu dan kenangan tersebut bisa Anda utarakan dalam bentuk karya sastra, salah satunya melalui puisi.

Kenangan dan memori indah tersebut bisa Anda utarakan dan rangkai menjadi kata demi kata yang indah untuk dibaca. Berikut kumpulan sajak puisi tentang sekolah dan pendidikan yang dihimpun dari buku Antologi Puisi SMA Pahoa Cinta dan Kehidupan oleh Ananda Heida Widigdo, Puisi Pendidikan oleh Rabiah, dkk., dan Puisi adalah Senjata.

Puisi tentang Sekolah dan Pendidikan

1. Perpustakaan

Ilustrasi puisi tentang sekolah dan pendidikan. Foto: Pixabay

Pintu kayu tua menyambut,

Estetika sederhana namun elegan.

Ruang labirin yang sunyi,

Pada setiap segmen terdapat tema.

Uraian kata tertera di pintu,

Sampaikan ilmu lewat jendela dunia.

Tidakkah engkau penasaran,

Apa yang tertulis di sela-sela halaman,

Kemisteriusan dan cerita.

Ah, takkan kulupa aroma tajam,

Aroma kertas yang menyelimuti udara,

Namun memberi kenyamanan.

Karya Aileen J./10 IPS 2

2. Sekolah Online

Karya Natalia Jesseline/10 IPS 1

Di kamar yang terang ini,

Dengan pendingin ruangan yang menyala.

Terduduk di depan laptop,

Mengerjakan tugas yang menumpuk,

Kemudian main game,

Dan berselancar di berbagai media sosial.

Lalu makan dan tidur,

Begitu saja terus setiap hari.

Begitulah kehidupanku.

3. Sekolah, Mimpika?

Ilustrasi puisi tentang sekolah dan pendidikan. Foto: Pixabay

Bumi mana yang kupijak ini?

Penuh kehampaan

Gelap

Tak ada setitik pun sinar yang menyempil

Inikah makna terang benderang itu?

Realita tanpa belas kasih

Penuh jeruji penderitaan

Dan aturan yang menyengsarakan

Kau yang tersebar bebas di seluruh penjuru

Mengapa teramat sulit tuk kuraih?

Tak cukupkah cucuran keringat dan tetes air mata kucurahkan?

Tak adakah belas kasihan untuk pemimpi kecil sepertiku?

Bumi mana yang sedang kutinggali ini?

Bisakah daun itu menjelma membantuku membelimu?

Kau

Ambillah seluruh kepunyaan ku

Botol bekas, atap nipah, dinding kardus sekalian selimut karungku

Sudi semua kuserahkan

Kuharap sudi pulalah kau terima aku

Bumi mana yang sedang kutumpangi ini?

Mengapa ia maha kejam?

Salahkah bila ku ingin dengar denting lonceng

Duduk di kursi kayu dan menatap papan tulis

Menumpahkan seluruh tawa dan canda

Tuk gapai cahaya terang yang seutuhnya

Bumi mana yang sedang kusinggahi ini?

Kau sesuatu yang tersebar bebas di seluruh penjuru begitu mahal

tuk kukecap Andai cucuran keringat dan tetes air mataku

Ubahnya jadi percikan berlian

Aku si pemimpi kecil kan mengubah dunia

Memberi cahaya terang benderang yang nyata

Terutama untuk pemimpi kecil malang yang lain

Karya Safira Annisa

4. Hanya Pendidikan

Karya Salma Salsabila

Hanya Pendidikan

Karya Salma Salsabila

Manusia berakal yang jauh dari moral

Tercemari udara kontemporer

Sudah jauh dari norma dan aturan

Siapa lagi yang bisa selamatkan

Selain tanaman pendidikan

Kelak manusia akan paham

Bahwa dirinya bukan apa-apa

Jika hanya ingin menikmati

Tanpa berusaha mati

Dengan pendidikan manusia akan tahu

Bahwa berakit itu ke hulu

Dan berenang ke tepian

Dengan pendidikan manusia akan sadar

Bahwa mimpi harus terus berakar

Untuk mencapai hidup tanpa samar

Hanya dengan pendidikan

Seluruh makhluk terselamatkan

Cinta dan kasih bertebaran

Hanya pendidikan

Bunga yang terus bermekaran

Harumnya semerbak bertebaran

Hanya pendidikan

Mampu selamatkan pergaulan

Mencapai mutiara masa depan

Hanya pendidikan

Selamanya hidup aman

5. Lelang Pendidikan

Ilustrasi puisi tentang sekolah dan pendidikan. Foto: Pixabay

Pendidikan...

Kata yang didengungkan oleh banyak kalangan

Katanya

Pendidikan itu tak memandang latar belakang

Namun, apalah daya

Itu 'cuma' slogan

Entah jaman yang telah berevolusi Atau sedari dulu tetap begini

Pendidikan adalah hak setiap warga

Namun, mana buktinya

Kami beli, kami juga yang menjual

Itu kata yang sering terlontar, dari orang yang katanya

berpendidikan Kami beli mahal, maka kami juga mendapatkan yang mahal

Pantas saja jika negara ini tak mencapai kejayaan

Kelakuan orang-orang berpendidikan tak lagi bisa diharapkan

Pendidikan investasi masa depan

Namun, bukan berarti pendidikan sebagai alasan untuk meraup

pajak besar-besaran

Karya Ahmad Latiful Ansori

6. Jangan Ajari Aku Korupsi Guruku

Karya Abdul Hakim

Kureguk ilmumu di saat aku dahaga akan ilmu

Kurasakan hangat kasih sayangmu kala engkau tebarkan teladan

buat anakmu

Senyum sapa salam mu setia menyambut kedatanganku

Tanpa kenal lelah engkau tebarkan kebajikanmu

Aku mungkin bukan anak yang pintar

Aku ingin meraup ilmu yang engkau ajar

Ilmumu aku goreskan dengan ujung pena

Di atas buku kusimpan jejak tulisanmu penuh rasa

Kuhayati tutur katamu dengan sepenuh jiwa

Aku ke sekolah bukan ingin mengumpulkan pundi-pundi angka

Aku mungkin bukan anak yang layak menyandang juara

Aku hanyalah anak negeri yang ingin melukis masa depan dengan

penuh asa

Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang kau semaikan

sepanjang masa

Aku ingin guruku memberi angka apa adanya

Bukan angka basa-basi biar aku terlihat anak digdaya

Menipu diriku...orang tua...dan seluruh bangsa

Meski aku tahu guruku takut dikatakan gagal mendidik anak bangsa

Terpaksa memberi angka yang cetar membahana.

Di bawah ancaman tunjangan takkan cair kalau anak diberi angka apa adanya

Guruku... Jangan ajari aku korupsi

Beri kami angka sesuai bukti yang engkau miliki

Itulah wajah kami yang masih harus belajar lebih keras lagi

Agar negeri ini kelak melahirkan generasi emas yang hakiki

Mampu berdikari taklukkan dunia yang kian berkompetisi

Bukan emas palsu yang menipu diri sendiri

Guruku... Ajarkan kami sepenuh hati dengan kejujuran dan hati nurani

(ANS)